SEMARANG - Memasuki era next normal pascapandemi Covid-19, industri fesyen di Tanah Air terutama Jawa Tengah dan Semarang pada khususnya mengalami banyak perubahan signifikan.
Poin penting perubahan adalah pertama, naiknya minat konsumen fesyen pada produk lokal yang membuka peluang bagi merek-merek lokal Indonesia untuk mendapatkan popularitas lebih besar di pasar dalam negeri dan luar negeri.
Kedua, pascapandemi, ada kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan dalam industri fesyen melalui pelatihan daring, lokakarya, dan program pendidikan, sehingga menciptakan tenaga kerja yang lebih terampil dan kreatif.
Ketiga, industri fesyen telah merespon perubahan gaya hidup dengan menawarkan pakaian yang lebih sesuai untuk berbagai aktivitas. Selanjutnya, adanya kemitraan dan kolaborasi merek fesyen dengan desainer lokal, seniman, atau merek lain untuk menciptakan produk-produk yang unik dan menarik bagi konsumen.
Kelima, sustainable fashion, yaitu kesadaran akan isu lingkungan dapat mendorong permintaan untuk pakaian berkelanjutan dan ramah lingkungan. Terakhir, digitalisasi dan inovasi teknologi seperti Augmented Reality (AR) bisa memberikan rekomendasi produk yang lebih personal, dapat membuka peluang baru dalam pengalaman berbelanja fesyen.
Selain itu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah untuk kedua kalinya mendukung Semarang Fashion Trend melalui sinergi program "Embrancing Festival Jateng Syariah" dengan berbagai kegiatan.
Kegiatan yang diangkat antara lain Jateng Modestpreneur Incubator, Jateng Modest Design Competition dan pergelaran busana muslim karya desainer kebanggaan Tanah Air dengan tujuan untuk mendorong peningkatan ekonomi syariah berkelanjutan untuk masyarakat Jawa Tengah pada khususnya.