PENEMUAN varian virus Covid-19 dengan 113 mutasi pada pasien di Jakarta tengah menjadi perbincangan hangat masyarakat. Mutasi tersebut kabarnya membuat varian Covid-19 menjadi lebih menular dibandingkan sebelumnya.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara sekaligus Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Mantan Kabalitbangkes, Prof Tjandra Yoga Aditama, menyarankan Indonesia harus tetap menjaga surveilan genomik dengan angka yang cukup tinggi.
Dia pun memberikan dua alasan mengapa surveilan genomik harus tetap dilakukan. Diantaranya adalah:
1. Secara umum akan tetap ada kemungkinan varian baru Covid-19 dengan tiga skenario. Base yakni standart seperti varian-varian sekarang pada umumnya. Best di mana varian baru akan lebih lemah dari sebelumnya dan tidak perlu pengulangan vaksin baru dan lain-lain.
Sementara skenario ketiga adalah Worst. Di mana varian baru memang lebih berat dari varian sebelumnya.
2. Ada laporan varian baru dari kita yang disebut lebih menular. Walaupun masih perlu diteliti lebih lanjut seperti disebut di atas. Kalau dibandingkan negara lain maka data genomik Covid-19 kita yang di masukkan ke GISAID belumlah optimal.
“Selain surveilan genomik, maka sama seperti penyakit menular yang lain maka kalau ada kasus positif maka tentu tetap perlu analisa tentang kemungkinan penularan yang sudah terjadi. Ini adalah praktek yang umum untuk penyakit menular langsung, ada atau tidak adanya pandemi,” tuturnya.
(Leonardus Selwyn)