Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Apa Benar Hemofilia Bisa Menyebabkan Disabilitas?

Dyah Ratna Meta Novia , Jurnalis-Jum'at, 21 Juli 2023 |13:18 WIB
 Apa Benar Hemofilia Bisa Menyebabkan Disabilitas?
Hemofilia (Foto: Verywell health)
A
A
A

HEMOFILIA merupakan penyakit gangguan pembekuan darah genetik yang disebabkan oleh kurangnya faktor pembekuan darah dalam tubuh. Gejala hemofilia di antaranya pendarahan pada luka yang sulit berhenti, mudah memar, hingga nyeri dan bengkak pada sendi siku dan lutut.

Lalu apakah hemofilia bisa menyebabkan disablitas?

 disabilitas

Dokter Spesialis Anak Subspesialisasi Hematologi Onkologi dari RSUPN Cipto Mangunkusumo (RSCM) Dr. dr. Novie Amalia Chozie, SpA(K) mengatakan, pasien hemofilia bisa mengalami disabilitas jika pendarahan di sendi atau otot tidak diatasi dengan sempurna.

"Disabilitas itu terjadi kalau pendarahan di sendi atau di otot tidak diatasi dengan sempurna, sehingga lama-lama bisa menjadi rusak sendi atau ototnya," kata Dokter Novie.

Menurut Dokter Novie, disabilitas lebih banyak terjadi pada pasien hemofilia dengan derajat berat. Meski demikian, kondisi tersebut juga tetap bisa terjadi pada semua derajat hemofilia.

"Pada yang ringan bisa, kalau dia tidak mendapatkan terapi yang benar. Tapi memang risikonya lebih besar pada yang berat," ujar Novie.

Dikutip dari Antara, Dokter Novie menjelaskan, ada dua hal yang dapat mempercepat pasien hemofilia mengalami disabilitas, yakni dari sudut pasien dan dari sudut penanganan yang didapatkan.

Dari sudut pasien, menurutnya, selain derajat penyakit, ketidakpatuhan pasien dalam berobat serta aktivitas yang dilakukan pasien juga dapat mempercepat terjadinya disabilitas.

"Kadang-kadang kita sudah memberikan edukasi misalnya harus disuntik setiap 12 jam, tapi saya tahu anak-anak banyak yang enggak mau disuntik dua kali sehari, maunya sekali saja. Atau misalnya disuruh istirahat dulu, jangan dulu dipakai jalan kakinya. Tapi namanya anak-anak, susah, tetap lari ke sana-sini," katanya.

 BACA JUGA:

"Kemudian ada faktor-faktor risiko lain, misalnya pada pasien yang punya inhibitor, itu pasti lebih sulit lagi. Jadi kemungkinan terjadinya pendarahan (lebih tinggi) dan penanganannya pun lebih susah," lanjut dia.

Sedangkan dari segi penanganan, menurut Novie, bisa terjadi jika dosis obat yang diterima oleh pasien kurang dari dosis yang seharusnya.

"Kenapa dosisnya kurang? Misalnya, kebetulan dijaminnya untuk di rumah sakit itu hanya sekian, enggak bisa lebih, jadi dosisnya diberikan sesuai dengan biaya yang tersedia, padahal dosisnya kurang. Itu sering terjadi," ujar Dokter Novie.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement