SEJAK beberapa bulan terakhir kondisi udara di berbagai negara sangat buruk. Polusi ini terdiri dari partikel debu atau asap kendaran bermotor, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, dan ozon di permukaan bumi.
Polutan dibagi menjadi 2 yaitu polutan indoor yang dihasilkan dari pembakaran bahan rumah tangga dan polutan outdoor. Seperti diketahui, polusi udara menyebabkan berbagai macam penyakit, seperti asma, infeksi saluran nafas, alergi, nyeri dada ISPA, dan masih banyak lagi.
Paparan polusi udara juga dapat membuat seseorang berisiko terkena kanker paru-paru, serangan jantung, stroke, dan dalam kasus ekstrim, kematian dini.
Kondisi tersebut dibenarkan oleh Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan, dr Taufani Dewi Vitriana, SP.THT-KL RSHB, orang yang sering terpapar polusi udara akan berisiko pada masalah paru-paru seperti asma.
"Apalagi buat mereka yang memang memiliki riwayat penyakit asma, pasti jadi sering kambuh," ucap dr Taufani saat ditemui dalam acara Tapping Healthy Lifestyle Okezone x RSHB bertajuk 'Cegah ISPA Saat Polusi Melanda' di Rumah Sakit Harapan Bunda.
Selain itu juga polusi udara dapat menyebabkan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). PPOK merupakan penyakit paru kronik yang mengakibatkan penyempitan saluran napas, yang bersifat kronik dan ireversibel. "PPOK dimana akan terjadi kerusakan karena peradangan pada paru-parunya yang terus menerus," tambahnya.
Ketika paru-paru sudah terinfeksi, seseorang akan mengalami pneumonia, atau fatalnya bisa mengidap kanker paru.Untuk itu, perempuan yang akrab disapa dr Fani ini menyarankan kepada masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Gunakan masker yang sesuai dengan anjuran kesehatan.
Selain itu juga jangan lupa untuk rajin membersihkan area hidung agar kotoran yang bersarang di sistem penyaringan bisa bersih. Dan yang terakhir pastikan untuk menjaga kebersihan udara di dalam rumah dengan menggunakan air purifier, dengan begitu kondisi udara di rumah tetap sehat.
(Martin Bagya Kertiyasa)