ORGANISASI Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) mendeteksi wabah demam babi afrika (ASF) di satu peternakan di Kepulauan Riau. Kasus ini dilaporkan Selasa, 9 Mei 2023.
Laporan Reuters menjelaskan, wabah ASF itu menewaskan 35.297 babi yang ada di 285.034 peternakan di Pulau Bulan. Awal kasus terdeteksi pada 1 April dan dikonfirmasi pada 28 April 2023.

"Demam Babi Afrika ini tidak membahayakan manusia, tetapi bisa berakibat fatal bagi babi," ungkap WOAH, dikutip MNC Portal, Rabu (10/5/2023).
WOAH menegaskan juga bahwa hingga saat ini belum ada vaksin ASF yang tersedia untuk babi.
ASF sendiri sudah menyerang China lebih dulu selama bertahun-tahun lamanya. Gelombang wabah pertama terjadi di 2018 dan berlanjut ke tahun berikutnya. Dari kejadian itu, jutaan babi mati dan menyebabkan penurunan drastis produksi daging babi yang berdampak pada pasar global.
Sumber wabah belum bisa dipastikan, namun otoritas dokter hewan mengatakan ke WOAH bahwa sumber wabahnya dimungkinkan manusia, kendaraan, pakan, lalat, dan babi hutan.

Pandemi Covid-19 Belum Kelar, Muncul Virus Demam Babi Afrika di Negara Ini
"Sumber wabah itu diperkirakan telah memainkan peran penting dalam masuknya ASF ke peternakan di Kepulauan Riau," ungkap laporan tersebut.
BACA JUGA:
WOAH juga menerangkan bahwa virus ASF sangat resisten terhadap lingkungan. Artinya, virus ASF dapat bertahan hidup di pakaian, sepatu bot, roda, dan bahan lainnya. Itu juga bisa bertahan di berbagai produk daging babi, seperti ham, sosis, atau bacon.
"Oleh karena itu, perilaku manusia dapat memainkan peran penting dalam menyebarkan penyakit babi lintas batas jika tindakan yang memadai tidak dilakukan," ungkap laporan WOAH.
Penyelidikan sedang dilakukan setelah penyakit ASF terdeteksi oleh Badan Pangan Singapura pada babi impor.
(Dyah Ratna Meta Novia)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.