"Tahun lalu memang ada perayaan, tapi masih ada pembatasan. Sekarang kita bisa laksanakan tanpa ada batasan kunjungan," katanya.
Leni mengatakan, kegiatan perayaan Lebaran Topat akan dilaksanakan pada dua lokasi makam yang dikeramatkan warga yakni di Makam Loang Baloq Kecamatan Sekarbela, dan Makam Bintaro Kecamatan Ampenan.
Lebaran Topat akan digelar serentak pada dua lokasi itu dengan berbagai kegiatan religi, mulai dari ziarah makam, zikir dan doa, selakaran, ngurisan (cukur rambut bayi), dan ditutup dengan makan bersama hidangan ketupat serta berbagai menu khas lokal yang menjadi ciri khas perayaan Lebaran Topat.
"Kegiatan juga akan dirangkaikan dengan berbagai atraksi budaya dari pagi sampai sore sekaligus sebagai hiburan bagi warga yang datang merayakan Lebaran Topat di kawasan itu," katanya.

Karenanya, tambah Leni, untuk mendukung dua agenda pariwisata itu telah disiapkan anggaran sebesar Rp50 juta untuk dua kecamatan tersebut. Lebaran Topat merupakan Lebaran yang dirayakan seminggu setelah Idul Fitri atau lebaran bagi umat Islam yang telah melaksanakan puasa enam hari di awal bulan Syawal.
Namun, masyarakat di Kota Mataram dan Pulau Lombok secara umum secara serentak merayakan Lebaran Topat dengan berbagai kegiatan religi dengan doa dan zikir di Masjid atau musala, berziarah ke makam-makam keramat kemudian makan-makan sambil bersantai ke sejumlah objek wisata yang ada terutama pantai.
Karena itu, saat Lebaran Topat kawasan 9 kilometer pesisir pantai di Kota Mataram akan dipadati puluhan ribu warga yang merayakan Lebaran Topat, termasuk pantai di kawasan Batu Layar, Senggigi, Nipah, Sire di Kabupaten Lombok Barat dan Utara, serta Pantai Kute yang ada di Lombok Tengah.
(Rizka Diputra)