BARU-baru ini Dinas Kesehatan DKI Jakarta melaporkan temuan 30 kasus Covid-19 varian Orthrus, varian turunan terbaru dari varian Omicron.
Meski diumumkan semua pasien varian Orthrus, 19 domisili Jakarta dan 11 lainnya di luar Jakarta tersebut sudah sembuh semuanya. Namun kecemasan akan penyebaran penularan varian baru ini di masyarakat, tentu tidak semerta-merta jadi hilang.
Keberadaan varian Orthrus ternyata tidak terlalu berdampak pada kenaikan kasus Covid-19 secara keseluruhan di Indonesia secara umum. Apakah itu artinya varian ini tidak perlu ditakutkan oleh masyarakat?
Disebutkan Ahli Kesehatan, Prof Zubairi Djoerban, kasus varian Orthrus yang pertama kali ditemukan itu di India, tepatnya pada 8 Juli 2022 tersebut secara keberadaan varian ini hanya 6 persen di seluruh dunia. Meski ada sebagian negara yang cukup banyak kasusnya.
"Lumayan banyak di Inggris, Denmark, dan Singapura," ujar Prof Zubairi, dikutip dari akun Twitter resminya @ProfesorZubairi, Minggu (26/2/2023).
Jika dilihat dari angka prevalensi yang rendah secara global, kemunculan varian Orthrus tampaknya tak terlalu signifikan memengaruhi kondisi pandemi global. Menurut Prof Beri, sapaan akrabnya, varian Orthrus ini tidak perlu dikhawatirkan akan menyebabkan potensi gelombang baru.
"Meski punya kemampuan untuk menembus kekebalan tubuh, namun tak ada yang perlu dikhawatirkan," terang Prof Beri.