Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Berbahaya, PDUI Minta Masyarakat Pilih Kemasan Pangan Non EG dan DEG!

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Jum'at, 27 Januari 2023 |16:48 WIB
 Berbahaya, PDUI Minta Masyarakat Pilih Kemasan Pangan Non EG dan DEG!
Obat sirup (Foto: Destination for teens)
A
A
A

PERHIMPUNAN Dokter Umum Indonesia (PDUI) meminta masyarakat agar lebih bijak memilih kemasan pangan yang aman. Ini penting, terlebih kasus etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) kemarin mengancam nyawa anak-anak.

EG dan DEG terbukti adalah zat kimia yang berbahaya bagi anak-anak. Parahnya, EG dan DEG tak hanya dipakai sebagai pelarut obat sirup, tapi juga ada di dalam kemasan pangan plastik sekali pakai, seperti air minum dalam kemasan, botol, dan galon sekali pakai.

 obat sirup

"EG dan DEG semestinya dipakai di industri sebagai antibeku dan lain-lain, tapi beberapa oknum tidak bertanggung jawab menggunakan zat kimia itu pada kemasan segala macam," ungkap Pengurus PDUI dr Catherine Tjahjadi dalam keterangan resminya, Jumat (27/1/2023).

"Menjadi perhatian kami bahwa zat EG dan DEG itu dipakai di kemasan pangan dan terbukti membahayakan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak Indonesia," sambungnya.

Dokter Catherine melanjutkan, EG dan DEG yang ada dalam kemasan pangan itu bisa saja terlepas ke dalam produknya. Apalagi banyak para pedagang yang menjual kemasan-kemasan ini dengan meletakkannya di panas matahari alias dijemur.

Bukan hanya itu, kemasan pangan sekali pakai yang mengandung EG dan DEG seperti botol-botol dan galon minum sekali pakai ini diisi ulang berkali-kali oleh sebagian masyarakat.

"Perlakuan-perlakuan tidak benar seperti inilah yang bisa membuat EG dan DEG itu terlepas dari kemasan ke produknya," jelas dr Catherine.

Karena itu, dia meminta masyarakat agar memilih dengan bijak kemasan-kemasan pangan yang aman untuk kesehatan.

"Masyarakat harus jeli dan meningkatkan 'awareness' atau kesadaran, dimulai dari keluarga dulu untuk lebih aware dengan kemasan-kemasan yang mengandung bahan kimia ini," ucapnya.

Dia menjelaskan bahwa EG dan DEG ini merupakan zat yang tidak berwarna dan tidak berbau, tapi rasanya manis. "Rasa manis dari EG dan DEG inilah yang kemungkinan membuat orang suka nggak ngeh bahwa itu adalah zat kimia, sehingga senang untuk mengonsumsinya," katanya.

"Padahal, jika sering diminum, zat-zat ini akan menumpuk di dalam tubuh dan bisa mengganggu kesehatan," dr Catherine mewaspadai.

Kenapa EG dan DEG ini berbahaya?

Menurut Dokter Catherine, EG dn DEG dapat sangat mengganggu keseimbangan asam dan basa di dalam tubuh. Jadi, ketika EG dan DEG tertelan, zat tersebut akan membentuk senyawa yang disebut glycolic acid atau asam glikolat.

Asam itulah yang menurut Dokter Catherine bisa mengganggu keseimbangan asam dan basa dalam tubuh si anak, sehingga menyebabkan kondisi yang disebut asidosis metabolik atau ketidakseimbangan asam-basa di dalam tubuh.

"Karena terjadi asidosis metabolik, asam glikolat yang terbentuk saat EG dan DEG tertelan juga diubah menjadi oksalat. Oksalat ini kemudian berikatan dengan kalsium membentuk kalsium oksalat," ungkap Dokter Catherine.

"Jika jumlahnya banyak dan menumpuk di dalam tubuh, itu bisa bikin gangguan pada organ tubuh seperti masalah di otak, paru-paru, ginjal, dan sebagainya," lanjutnya.

"Jadi, EG dan DEG tidak hanya menyebabkan gangguan ginjal, tapi juga syaraf hingga paru-paru," ungkap Dokter Catherine.

 BACA JUGA:8 Obat Batuk Alami yang Terbukti Ampuh, Bisa Dicoba di Rumah

Keracunan EG dan DEG sama dengan keracunan etanol yang gejalanya adalah mengantuk, linglung, gelisah, bicara melantur, dan disorientasi seperti orang mabuk.

Keracunan EG dan DEG yang berdampak pada paru-paru memiliki gejala mudah capek saat berlari, napas terengah-engah dan pendek, serta sesak napas. Selain itu juga terjadi perubahan tekanan darah, bisa tinggi atau malah bisa rendah, dan denyut jantungnya menjadi sangat cepat tidak beraturan.

Kalau untuk gangguan ginjal, gejalanya adalah mual, muntah, kencingnya berkurang dan tidak bisa buang air kecil.

"Tapi, kenapa yang lebih disorot itu ke gangguan ginjal, karena gejala di ginjal itu lebih spesifik, jadi mungkin lebih mudah terlihat dokter," papar dia.

Dokter Chaterine mengatakan, PDUI sangat peduli terhadap masalah EG dan DEG ini. Karenanya, PDUI berusaha untuk ikut mengedukasi terkait EG dan DEG ini ke setiap pasien saat datang berobat maupun edukasi melalui pos pelayanan terpadu (Posyandu).

"Kami lebih bergerak dari segi sosialisasi di masyarakat. Kami selalu menyarankan agar masyarakat harus lebih bijak memilih pangan dan kemasan pangan yang aman," tukasnya.

PDUI juga berharap edukasi mengenai bahaya EG dan DEG ini dilakukan di lingkungan sekolah. Menurut dr Catherine, hal itu mengingat banyak guru-guru yang masih kurang paham soal zat-zat kimia berbahaya pada pangan dan kemasan pangan.

"Jadi, seharusnya guru-guru di sekolah juga dibekali informasi mengenai bahaya EG dan DEG. Sebab, anak-anak kan biasanya lebih dengar apa yang disampaikan guru-guru mereka ketimbang orangtua yang ngomong. Edukasinya dimulai dari hal-hal kecil dulu," ungkap dr Catherine.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement