Kemudian pada 2 Januari, melalui email, maskapai Air New Zealand menawarkan untuk mengirimkan koper tersebut ke rumah mereka di Auckland.
Stephens menjawab email tersebut dua hari setelahnya, dan menanyakan apakah temannya bisa mengambil langsung koper tersebut dari Bandara Wellington atas namanya.
Berdasarkan penuturan teman sekamarnya, koper tersebut telah tiba dan van mereka juga dibobol pada Minggu 8 Januari.
“Saya tidak meminta ini. Saya tidak menyuruh mereka mengirimkan koper tersebut,” katanya.
“koper telah dikirim minggu itu (juga) dan tergeletak di luar rumah selama empat hari.”
Menurut pernyataan dari Air New Zealand, mereka menyesal mendengar hal tersebut, tetapi koper yang sampai pada mereka tidak memiliki label. Hanya informasi kontak yang tertulis di sana.
“Air New Zealand selalu memastikan telah menghubungi penumpang sebelum pengiriman tas tersebut, sebagai konfirmasi,” kata Alex Marren, kepala operasi maskapai.

Meskipun para penumpang menaiki Air New Zealand sebagai penerbangan lanjutan pertama, Marren mengatakan tanggung jawab terhadap koper tersebut terletak pada bagian maskapai yang mengoperasikan perjalanan selanjutnya ke Paris.
“Meskipun Air New Zealand tidak punya tanggung jawab terhadap hilangnya koper tersebut, tim kami ingin membantu, (mereka) mengerti hal itu bisa membuat siapa pun yang kehilangan koper bingung,” kata Marren.
Kesalahan itu terjadi setelah maskapai menafsirkan pesan ‘Ok’ dari Stephens, sebagai persetujuan untuk pengiriman koper.
Kompensasi soal koper tersebut belum dibahas sama sekali oleh pihak maskapai.
Sementara, untuk kasus van mereka yang dibobol, Stephens mengaku tidak menyalahkan maskapai Air New Zealand.
(Salman Mardira)