GAWAI jadi salah satu barang wajib yang tak bisa dilepas dari aktivitas sehari-hari. Sayangnya, gawai seperti komputer, laptop, layar tablet, atau ponsel pintar, bahkan lampu neon, TV LED juga hadir dengan ancaman kesehatan bagi penggunanya dengan adanya blue light.
Blue light merupakan bagian dari spektrum cahaya tampak, yang bisa dilihat oleh mata manusia. Cahaya ini bergetar dalam kisaran 380 hingga 500 nanometer, dan memiliki panjang gelombang terpendek dan energi tertinggi.
Mengutip laman UCDAVIS Health, dr. Melissa Barnett, kepala dokter mata di UC Davis Eye Center, menjelaskan bahwa cahaya biru atau blue light mempengaruhi mata dan kesehatan manusia.
Disebutkan lebih lanjut, paparan cahaya biru dari layar memang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah paparan dari matahari (sumber blue light terbesar). Namun, ada kekhawatiran tentang efek jangka panjang paparan layar dari perangkat digitak karena penggunaan durasi lama dari penggunaan layar atau layar yang terlalu dekat dengan mata.
Menurut Vision Council, 80 persen orang dewasa Amerika yang menggunakan perangkat digital lebih dari dua jam per hari dan Hampir 67 persen memakai dua perangkat atau lebih pada saat yang bersamaan, 59 persen memiliki gejala mata yang tegang karena pemakaian perangkat-perangkat digital ini.
Paparan blue light ini jadi bahaya, mengingat organ mata sebetulnya tidak pandai menghalangi cahaya biru, hampir semua cahaya biru yang terlihat melewati bagian depan mata (kornea dan lensa) dan mencapai retina (sel yang mengubah cahaya untuk diproses otak menjadi gambar)
Melansir UCDAVIS Health, Jumat (23/12/2022) paparan konstan terhadap cahaya biru dari waktu ke waktu ini bisa merusak sel retina dan menyebabkan masalah penglihatan seperti degenerasi makula yang terkait usia.
Selain itu juga bisa menyebabkan katarak, kanker mata, dan pertumbuhan pada penutup bening di bagian putih mata. Mirisnya, menurut studi penglihatan oleh National Eye Institute, anak-anak justru lebih berisiko daripada orang dewasa karena mata mereka menyerap lebih banyak cahaya biru dari perangkat digital.
Orang juga umumnya cenderung lebih sedikit berkedip saat menggunakan perangkat digital, yang berkontribusi terhadap mata kering dan ketegangan mata yang punya gejala seperti sakit kepala, penglihatan kabur, dan nyeri pada leher dan bahu.
Bagaimana cara mengurangi efek negatif dari cahaya biru? Jawabannya adalah dengan mengontrol pencahayaan dan silau pada layar perangkat gawai. Atur jarak kerja dan postur tubuh yang baik untuk melihat layar.
BACA JUGA:5 Cara Perawatan Luka Diabetes agar Kondisinya Tidak Memburuk
BACA JUGA:Apa Benar Obesitas dan Diabetes Bisa Sebabkan Kanker Usus Besar?
Selain itu, penting juga untuk rutin melakukan pemeriksaan mata, terlebih ketika merasa mengalami masalah penglihatan sekecil apapun agar bisa ditangani lebih awal dan tepat penanganannya.
Orang juga umumnya cenderung lebih sedikit berkedip saat menggunakan perangkat digital, yang berkontribusi terhadap mata kering dan ketegangan mata yang punya gejala seperti sakit kepala, penglihatan kabur, dan nyeri pada leher dan bahu.
Bagaimana cara mengurangi efek negatif dari cahaya biru? Jawabannya adalah dengan mengontrol pencahayaan dan silau pada layar perangkat gawai. Atur jarak kerja dan postur tubuh yang baik untuk melihat layar.
Selain itu, penting juga untuk rutin melakukan pemeriksaan mata, terlebih ketika merasa mengalami masalah penglihatan sekecil apapun agar bisa ditangani lebih awal dan tepat penanganannya.
(Rizky Pradita Ananda)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.