JUMLAH kematian akibat Covid-19 di China semakin meningkat usai diberlakukan pencabutan pembatasan. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah pengguna rumah duka dan krematorium khusus Covid-19 di Beijing.
Meski begitu, China tidak melaporkan sama sekali penambahan kasus kematian selama dua pekan terakhir. Terakhir dilaporkan hanya ada dua kasus kematian yang diumumkan pada 4 Desember 2022 lalu.

Padahal, dikutip dari Japan Times, setidaknya ada sekitar 30 jenazah korban Covid-19 yang dikremasi pada hari Rabu (14/12/2022) lalu. Hal ini disampaikan staf di krematorium pada Financial Times. Mereka bahkan menyebutkan kewalahan dengan permintaan kremasi yang meningkat akhir-akhir ini.
China telah melaporkan hanya 5.235 kematian akibat COVID-19 sejak pandemi dimulai pada akhir 2019, dengan kasus pertama yang diketahui di pusat kota Wuhan. Sejak saat itu sistem penguncian, pengujian massal, dan isolasi diberlakukan. Sejak saat itu Tiongkok mengklaim melewati masa pandemi yang panjang "tanpa virus."
Saat lockdown dibuka, China mengalami hampir 1 juta kematian akibat COVID-19, menurut sebuah laporan oleh para peneliti di Hong Kong pada hari Kamis (15/12/2022). Data yang diperoleh Institute of Health Metrics and Evaluation menunjukkan kematian bisa mencapai 1 juta hingga 2023 karena pembalikan tiba-tiba dari nol-COVID menghasilkan lonjakan.
Kurangnya kematian yang dilaporkan sejak pembatasan dicabut juga menimbulkan pertanyaan di antara beberapa orang China. Platform media sosial seperti Weibo heboh mempertanyakan apakah kematian di Beijing telah meningkat dan mengeluh tentang antrian panjang di rumah duka.
Ada pertanyaan tentang data COVID-19 China sejak dimulainya pandemi. Saat laporan tentang antrean panjang dan tumpukan guci di rumah duka Wuhan memicu spekulasi bahwa negara tersebut telah mengaburkan jumlah kematian yang sebenarnya. Angka kematian resmi COVID-19 direvisi naik sekitar 1.290 kematian pada April 2020, meningkatkan penghitungan sekaligus sebesar 40 persen.
China menolak terbuka dengan mengatakan penambahan itu termasuk kasus di mana orang meninggal di rumah tanpa menemui dokter atau dites untuk COVID-19. Rumah sakit kewalahan merawat pasien di Wuhan pada awal wabah, dan revisi tersebut juga mencakup pelaporan yang terlambat dan tidak lengkap dari pekerja medis, kata China saat itu.
(Vivin Lizetha)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.