ISU resesi seks, ketika generasi muda orang-orang yang berusia produktif saat ini cenderung tak ingin memiliki punya anak tengah ramai jadi bahasan di masyarakat. Contohnya di Korea Selatan yang seperti dilapor CNN Asia, merupakan negara dengan angka kelahiran terendah di dunia.
Keputusan untuk memiliki atau tidak punya anak memang bukan keputusan hidup yang mudah. Lantas apakah konsep child free, tak ingin memiliki anak ini sebagai tanda dari ketidaksiapan atau manifestasi rasa takut seseorang menghadapi masa depan?
Ada pendapat yang menyebut, orang-orang ogah punya anak adalah kelompok pengecut menghadapi masa depan. Bagaimana anggapan ini dilihat dari kacamata psikolog sosial?
"Bukan pengecut, tapi mereka ini mungkin orang-orang yang tidak mau mengambil risiko," kata Endang Mariani saat diwawancarai MNC Portal di kawasan Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Berbagai latar belakang, jadi alasan di balik keputusan untuk tidak ingin punya anak. Tak ditampik, alasan ekonomi atau finansial jadi yang utama. Dengan biaya hidup yang semakain tinggi, banyak orang akhirnya merasa tidak mampu untuk mengurus anak dengan baik, hingga timbul kekhawatiran akan memiliki anak yang tidak sesuai harapan.
"Suatu sikap itu terbentuk dari berbagai kejadian atau proses kehidupan sebelumnya. Nah, mungkin orang-orang yang memilih ogah punya anak, punya dasar pemikiran sendiri karena pengalaman sebelumnya," lanjut Endang.
Endang menegaskan, pengalaman tersebut bukan berarti mutlak sesuatu yang dialami atau dijalani langsung sendiri. Tapi bisa dari apa yang dilihat atau yang didengar. Sehingga lahir lah prinsip tak ingin memiliki anak.