Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Erupsi Lagi, Begini Sejarah dan Asal Usul Gunung Anak Krakatau

Dita Mawanda , Jurnalis-Kamis, 27 Oktober 2022 |21:02 WIB
Erupsi Lagi, Begini Sejarah dan Asal Usul Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau erupsi (Foto: iNews/Heri Fulistiawan)
A
A
A

GUNUNG Anak Krakatau kembali erupsi pada Rabu, 26 Oktober 2022. Gunung yang terletak di Selat Sunda itu tercatat 4 kali erupsi serta memuntahkan material vulkanik dengan ketinggian mencapai 200 meter di atas permukaan kawah. Ini adalah erupsi pertama sejak dua bulan terakhir.

Bicara soal Gunung Anak Krakatau, tentu sangat melekat pada gunung yang pernah menggemparkan dunia, yakni Gunung Krakatau.

Gunung legendaris itu pernah meletus dan menjadi catatan bencana gunung meletus paling luar biasa besar sekaligus mematikan sepanjang sejarah peradaban manusia.

Pada tahun 1880, aktivitas vulkanis berlangsung selama beberapa bulan. Gunung perbuatan tampak aktif mengeluarkan lava, setelah periode itu tidak ada lagi aktivitas vulkanis hinggga akhirnya muncul tanda-tanda hadirnya letusan pada bulan Mei 1883.

Letusan Gunung Krakatau ini menghasilkan debu luar biasa yang mampu menembus jarak hingga 90 km, berdampak pada terjadinya gelombang laut sampai 40 m vertikal dan telah memakan korban sebanyak 36.000 jiwa pada 165 desa di Lampung Selatan maupun Jawa Barat.

BACA JUGA: Nikmati Pantai Pasir Putih Banten dengan Pemandangan Anak Gunung Krakatau
Infografis Gunung Tertinggi di Indonesia

Menurut catatan sejarah yang sampai sekarang masih diceritakan, tepat pada 27 Agustus 1883 letusan Gunung Krakatau sangat dahsyat hingga semburan lahar dan abunya mencapai ketinggian 80 km.

Abunya pun, mengelilingi bumi selama beberapa tahun dilihat dari Amerika Utara dan Eropa tampak cahaya matahari berwarna biru dan bulan berwarna jingga.

Ya, kehebatan letusan pada waktu itu sukses melenyapkan Gunung Danan dan Gunung Perbuatan dari muka bumi, lalu tersisa tiga pulau, di antaranya Pulau Panjang, Pulau Sertung, dan Pulau Rakata, juga sebuah kaldera yang berada di tengah ketiga pulau itu dengan diameter 7 km.

Fenomena alam yang disebut keajaiban baru, pada tahun 1927 para nelayan tengah melaut di Selat Sunda tiba-tiba terkejut ketika melihat kepulan asap hitam di permukaan laut menyembul di antara tiga pulau, yakni di kaldera bekas letusan Gunung Krakatau.

Kemudian pada 29 Desember 1929 penampakkan dinding kawah muncul ke permukaan laut yang juga sebagai sumber erupsi. Hitungan dua tahun, setelah teka-teki kepulan asap di laut tersebut, muncul benda aneh yang semakin hari semakin jelas bentuknya, kini banyak dikenal Gunung Anak Krakatau.

Misteri lain terungkap, jika tinggi Gunung Anak Krakatau selalu bertambah sekitar satu senti setiap harinya. Gunung ini semula hanya beberapa meter saja, namun kini telah mencapai 450 meter terhitung pada September 2022 sejak kemunculannya di tahun 1927.

Di balik sejarah yang begitu luar bisa terus terkenang hingga sekarang, kini Gunung Anak Krakatau difungsikan sebagai cagar alam. Gunung Anak Krakatau merupakan 'harta paling berharga' bagi ilmu pengetahuan karena menjadi fenomena sangat langka di dunia.

Ekosistem Gunung Anak Krakatau pun terus berkembang dan dijaga ketat kelestariannya, diperbolehkan pula bagi pelancong yang ingin menginjakkan kaki mereka di gunung tersebut tersedia empat tujuan, yakni melakukan penelitian, pendidikan, pengembangan pengetahuan, dan penunjang budi daya.

Infografis Gunung di Jawa Barat

Mengutip laman Lampungprov.go.id, kawasan Gunung Anak Krakatau mulai dibuka menjadi destinasi wisata, pelancong akan ditawarkan mendaki gunung, melihat keindahan pantai dan surga bawah laut di pulau-pulau sekitarnya, seperti Pulau Sebesi, Pulau Umang, dan Lagoon Cabe.

Pulau Sebesi

Pulau ini merupakan salah satu pulau terbesar di Selat Sunda dengan luas sekitar 16 km2. Pulau Sebesi dijadikan transit sebelum ke Gunung Anak Krakatau, tersedia beberapa penginapan (homestay) dengan harga terjangkau, serta listirk di pulau ini menggunakan genset yang beroperasi mulai pukul 18.00 – 24.00 WIB.

Pulau Umang

Pulau Umang berlokasi tidak jauh dari Pulau Sebesi, berjarak kurang lebih 15 menit dari Dermaga Sebesi. Pulau yang akan memanjakan indera pengelihatan Anda dengan pemandangannya yang memesona, sehingga Anda dapat menghasilkan spot foto terbaik, melihat hamparan pasir putih halus dan lembut, juga air laut jernih.

Lagoon Cabe

Lagoon Cabe yang berada di Pulau Rakata ini dapat ditempuh sekitar setengah jam perjalanan jika berangkat dari Pulau Gunung Anak Krakatau.

Sepanjang perjalanan menuju Laggon Cabe, Anda akan takjub melihat kelestarian Pulau Rakata yang terjaga secara alami.

Serta, tampak keindahan laut yang berisi aneka ikan hias berwarna-warni serta deburan ombak menghentak ke pinggir pantai dengan bebatuan tidak terlalu besar.

(Rizka Diputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement