RATA-rata sebagian besar yang namanya anak-anak, senang bermain video games. Dalam video games, banyak terdapat pilihan jenis permainan.
Salah satunya games atau permainan tipe tembak-tembakan, yang jadi varian games terpopuler dan banyak dimainkan.
Namun, orang tua sebaiknya waspada jika anak bermain video games jenis ini. Merujuk pada satu studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Heart Rhythm, disebutkan bahwa game ‘tembak-tembakan’ dapat memicu masalah jantung yang mematikan pada anak-anak.
Studi tersebut mendapati bahwa permainan dengan unsur ‘tembak-tembakan’ dapat memberikan andrenalin, yang memicu gangguan irama jantung yang serius terhadap anak-anak yang punya kondisi rentan.
Gangguan inilah yang nantinya akan menyebabkan pola detak jantung aritmia yang tidak biasa dan berbeda, bahkan telah menyebabkan kematian pada beberapa anak dengan masalah jantung.
“Video game dapat menimbulkan risiko serius bagi beberapa anak dengan kondisi aritmia, video games ini mungkin mematikan pada pasien dengan predisposisi, tetapi seringkali kondisi aritmia yang sebelumnya tidak dikenali, ” kata kepala peneliti Claire M. Lawley, MBBS, PhD dalam keterangan resminya, dilansir dari New York Post, Sabtu, (15/10/2022).
Dijelaskan lebih lanjut, lewat studi penelitian tersebut tim peneliti menemukan bahwa banyak dari anak-anak yang menderita masalah jantung saat bermain "game perang dengan multi-pemain" di konsol dan komputer. Peneliti menyebutkan bahwa pasien memasuki "keadaan bersemangat" dan menjadi sakit setelah berkelahi dengan sesama pemain.
Setelah ditelusuri, ini karena ada dorongan adrenalin dari aktivitas fisik dan emosi yang meningkat saat bermain game. Sehingga akhirnya dapat menyebabkan pingsan, jantung berdebar, dan pusing.
Para ahli memperingatkan bahwa anak-anak yang mengalami pingsan saat bermain game harus dibawa ke spesialis jantung. Mengapa demikiank? Sebab, kehilangan kesadaran bisa menjadi tanda masalah jantung yang tidak terdiagnosis.
Takikardia ventrikel polimorfik katekolaminergik (CPVT) dan sindrom QT panjang bawaan (LQTS) tipe 1 dan 2, ditemukan sebagai penyebab utama yang paling umum dengan sebagian besar diagnosis bersifat genetik.
Selain itu dalam beberapa kasus, video game disebutkan bisa menyebabkan pemadaman sistem kelistrikan jantung yang membuat orang lain di keluarganya diperiksa, dan didiagnosis dengan kondisi jantung genetik.
“Kami sudah tahu bahwa beberapa anak memiliki kondisi jantung yang dapat membahayakan mereka saat bermain olahraga kompetitif, tetapi kami terkejut menemukan bahwa beberapa pasien mengalami pingsan yang mengancam jiwa selama bermain video game,” kata peneliti Christian Turner, MBBS.
Meskipun reaksi yang mungkin mematikan terhadap video game bukanlah kejadian umum, tapi masalah ini harus ditanggapi dengan sangat serius.
Peneliti menilai, para orang tua harus mempertimbangkan kembali video game sebagai alternatif aktivitas untuk anak-anak.
BACA JUGA:Jaga Kesehatan Jantung, Menkes Budi: Jangan Hanya Diam di Rumah
BACA JUGA:Vaksin Covid-19 mRNA Bisa Berisiko Ancaman Serangan Jantung, Benarkah?
“Video game, sebelumnya saya pikir akan menjadi 'aktivitas aman' alternatif. Ini adalah penemuan yang sangat penting. Kami perlu memastikan, semua orang tahu betapa pentingnya memeriksakan diri ketika seseorang mengalami episode pingsan dalam keadaan seperti ini,” tutup Christian Turner.
(Rizky Pradita Ananda)