DI DESA Lawolatu, Kecamatan Ngapa, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) terdapat sebuah gua yang disebut masyarakat lokal (Tolaki), Kumapo Lawolatu atau lebih dikenal sebagai gua tengkorak.
Sesuai penamaannya, di tempat ini tersimpan ratusan tulang dan tengkorak kepala manusia yang diperkirakan hidup pada abad ke-14 silam.
Goa tengkorak terletak di Bukit Tetenona di ketinggian 210 Mdpl. Jaraknya kurang lebih 30 Km dari ibu kota Kolut, Lasusua dan sejauh 1 Km dari pusat Kecamatan Ngapa. Dari Jalan Trans Sulawesi setempat, jalur yang dilalui untuk sampai ke kaki bukit goa tengkorak berupa rabat beton yang bisa diakses menggunakan kendaraan roda dua.
Dari kaki bukit itulah, ada ratusan anak tangga yang harus ditaklukkan dengan berjalan kaki menapaki kemiringan 40-50 derajat. Liang-liang kecil, semak belukar dan pepohonan yang tumbuh lebat di sepanjang jalur pendakian memacu adrenalin pengunjung.
(Foto: MPI/M. Rusli)
Lega tiba di lokasi namun terasa merinding saat melangkah ke mulut gua. Betapa tidak tulang-belulang dan tengkorak manusia itu bisa langsung disaksikan menumpuk pada stalagmit hingga lorong utama yang tak terjamah cahaya matahari langsung.
Gua ini memiliki lambung dengan titik terlebarnya diperkirakan mencapai 20 meter dan tinggi hingga 15 meter. Luas lahannya memanjang sejauh 60,43 meter dan lebar 28,41 meter. Langit-langitnya yang gelap dihiasi stalaktit menjadi tempat favorit kelelawar bergelantungan.
Tumpukan tengkorak kepala manusia itu bisa dijumpai di beberapa titik dalam goa. Ada pula yang berserakan di tanah dan diselipkan pada dinding batuan yang berlubang.
Gua yang menyimpan banyak tulang manusia itu dulunya disebut sebagai pemakaman namun tidak dengan cara dikuburkan dalam tanah. Mereka diletakkan di dalam liang berikut benda-benda berharga milik miliknya sebagai bekal ke alam lain.