AKSI kerusuhan yang melibatkan suporter Arema dengan suporter Persebaya, berujung tragedi yang dikabarkan menewaskan 125 orang. Ini merupakan sejarah kelam sepakbola Indonesia.
Peristiwa ini juga cukup menyita perhatian publik atas tragisnya penanganan kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang. Kerusuhan terjadi usai pertandingan antara Arema versus Persebaya berakhir dengan skor 2-3.

Korban yang meninggal di rumah sakit, mayoritas nyawanya tak tertolong karena sudah dalam kondisi memburuk setelah kerusuhan yang terjadi. Mereka mayoritas mengalami sesak napas dan terjadi penumpukan sehingga terinjak-injak karena panik akibat tembakan gas air mata.
"Mereka pergi keluar ke satu titik di pintu keluar, kalau enggak salah itu 10 atau pintu 12. Kemudian terjadi penumpukan di dalam proses penumpukan itulah terjadi sesak nafas, kekurangan oksigen, yang oleh tim medis dan tim pergabungan ini dilakukan upaya penolongan yang ada di dalam stadion," papar Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta.
Dikutip dari clevelandclonic.org, kondisi sesak napas terjadi karena kekurangan oksigen.
Bentuk kelanjutan dari kekurangan oksigen adalah kerja otak akan terganggu. Karena otak bisa bekerja menggunakan oksigen.
Tanpa oksigen, sel-sel otak akan mati. Mengakibatkan cedera otak atau yang disebut hipoksia. Itu dapat terjadi saat menghirup asap karbon monoksida. Beberapa kasus juga terjadi karena cedera.
BACA JUGA:Ratusan Suporter Tewas di Stadion Kanjuruhan, Jokowi Perintahkan Kapolri Evaluasi Pengamanan
Tanda orang yang mengalami cedera otak akibat sesak napas karena kurang oksigen antara lain,
- Tampak bingung dan susah bicara
- Bernapaslah dengan cepat atau dangkal atau hentikan pernapasan
- Muncul warna kebiruan atau keabu-abuan pada kulit dan bibir
- Memiliki pupil mata yang melebar, atau kejang
- Tidak menanggapi ketika Anda menyebut nama mereka atau meminta mereka melakukan sesuatu seperti meremas tangan Anda