Meski demikian, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko ibu hamil mengalami eklampsia, yaitu:
-Adanya riwayat preklamsia
-Adanya riwayat preklamsia dan eklampsia pada keluarga
-Kehamilan di bawah 20 tahun dan di atas 40 tahun
-Riwayat penyakit diabetes, penyakit ginjal, anemia sel sabit, -obesitas, dan penyakit autoimun.
-Hamil kembar
-Hamil karena bayi tabung
Diagnosis eklampsia biasanya dilakukan dengan wawancara mengenai kondisi yang dialami ibu hamul. Setelah itu, ibu hamil akan melakukan beberapa pemeriksaan kehamilan, riwayat penyakit, dan preeklamsia sebelumnya.
Dokter juga akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti tes darah, tes urin, tes fungsi hati dan ginja, serta USG.
Ibu hamil yang mengalami kejang atau menunjukan gejala-gejala di atas, sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat atau IGD. Karena, pencegahan lebih dini bisa menyelamatkan ibu dan bayi yang dikandung.
Sementara itu, pengobatan atau penanganan eklampsia sebenarnya hanya bisa dilakukan dengan melahirkan anak yang di dalam kandungan lebih awal. Namun, dokter biasanya juga akan memberikan beberapa penanganan lain, seperti:
-Memberikan obat pengontrol tekanan darah serta vitamin
-Menyarankan untuk bed rest dengan pengawasan dokter
-Memantau kondisi janin dan ibu hamil
Demikian informasi mengenai eklampsia. Semoga bermanfaat.
(RIN)
(Rani Hardjanti)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.