Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Merasa Kasihan ke Pelaku Kejahatan, Empati Biasa atau Stockholm Syndrome?

Wiwie Heriyani , Jurnalis-Senin, 05 September 2022 |19:00 WIB
Merasa Kasihan ke Pelaku Kejahatan, Empati Biasa atau Stockholm Syndrome?
Ilustrasi pelaku kejahatan, (Foto: Freepik)
A
A
A

Dalam perkembangan awalnya, seseorang yang mengalami kondisi ini menjadi terikat dengan penculiknya dan mungkin mengalami perasaan cinta, empati, atau keinginan untuk melindungi penculiknya.

Orang yang disandera atau korban kekerasan juga sering mengembangkan perasaan negatif terhadap polisi atau pihak lain yang mencoba menyelamatkannya. Dari studi peristiwa ini, para peneliti menyimpulkan penyebab untuk menjelaskan fenomena tersebut.

Seseorang yang mengembangkan sindrom ini sering mengalami gejala stres pasca trauma, mimpi buruk, insomnia, kilas balik peristiwa, kecenderungan untuk mudah terkejut, kebingungan, dan kesulitan mempercayai orang lain.

Dari perspektif psikologis, fenomena ini bisa dipahami sebagai mekanisme bertahan hidup. Bahkan, dalam situasi penyanderaan, korban bisa bertindak seolah-olah mereka mengalami Stockholm syndrome untuk meningkatkan peluang bertahan hidup. Demikian seperti dirangkum dari berbagai sumber, Senin (5/9/2022). 

 BACA JUGA:Mengenal Sindrom Tourette yang Viral Serang Gadis Palembang

 BACA JUGA: Sindrom Cutis Laxa Membuat Daffa Miliki Kulit Kendur Seperti Orang Tua

(Rizky Pradita Ananda)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement