Namun, Dean menilai, hal ini sulit popular dan berhasil di negara-negara berkembang dan negara miskin. Pasalnya, tas kresek atau botol plastik bisa mudah dilihat berserakan di mana-mana. Menjadikan, hal semacam ini tak istimewa lagi jika memakai sandal botol plastik untuk sekedar jalan-jalan sore.
“Makanya reaksi-reaksi kritis terhadap kreativitas Balenciaga ini bisa dibilang kebanyakan ya datang dari negara-negara berkembang dan miskin, karena ide tersebut dianggap mengada-ada, buang-buang uang,” imbuhnya.
Selain itu, lanjut Dean, tren tema ‘nyeleneh’ dalam produk brand luxury seperti Balanciaga tidak mungkin memicu brand-brand lain untuk melakukan hal yang sama sebagai strategi marketing brandnya.
Sebab, menurutnya, beberapa brand luxury ternama lain seperti Dior, Chanel, Fendi, atau Celine sudah cenderung dicintai orang-orang Asia yang lebih menyukai produk-produk mewah dan classy.
“Jenama-jenama tersebut sudah cenderung digandrungi di Asia, terutama kalangan upper class yang menyukai sesuatu yang sopan, mewah, classy, anggun, dan mampu menopang kesenangan orang Asia menggunakan perhiasan-perhiasan mahal,” pungkas Dean.
BACA JUGA:Sandal Jepit Botol Plastik Seharga Rp13 Juta, Dipakai Justin Bieber!
(Rizky Pradita Ananda)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.