Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hari Anak Nasional, Nasib Anak Bantar Gebang Bergantung Sistem Pengelolaan Sampah

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Sabtu, 23 Juli 2022 |15:04 WIB
Hari Anak Nasional, Nasib Anak Bantar Gebang Bergantung Sistem Pengelolaan Sampah
Anak-Anak yang tinggal di Bantargebang (foto: Okezone.com/Wisnu)
A
A
A

HARI Anak Nasional 2022 merupakan momen untuk melihat bagaimana nasib anak-anak, calon penerus bangsa saat ini. Memang, berbagai kebijakan sudah dibuat agar anak-anak bisa mendapatkan pendidikan, kesehatan dan kehidupan yang layak.

Tapi, bukan berarti pada praktiknya semua berjalan dengan lancar. Contoh saja seperti anak-anak yang tinggal di Bantar Gebang.

Tak bisa dielakkan bahwa nasib anak-anak pemulung yang tinggal di Bantar Gebang sangat tinggi risiko masalah kesehatan. Mereka seperti tidak punya pilihan mau tinggal di mana, sehingga tumpukan sampah mungkin sudah dianggap seperti kebun belakang rumah.

Menurut laporan Tropical Go Green, anak-anak di Bantar Gebang dihantui oleh bahaya kesehatan pencemaran udara hingga masalah kesehatan fisik. Area tempat tinggal yang tidak higienis, akses fasilitas kesehatan yang masih kurang tercukupi, hingga pendidikan yang layak masih belum memadai.

Hari Anak Nasional

Meski kita tahu bersama bahwa anak-anak Bantar Gebang ini kerap mengandalkan sekolah informal. Dalam situasi terbatas, luar biasanya anak-anak ini tetap bersemangat untuk menggapai cita-cita. Masih ada harapan bisa keluar dari lingkungan tidak sehat tersebut.

Upaya dari pihak swasta meminimalisir sampah yang tidak bisa didaur ulang terus dikerjakan. Selain itu, edukasi soal pengolahan sampah menjadi barang berdaya jual dan berdaya guna pun semakin banyak diedukasikan ke masyarakat.

"Sistem pemilahan dan pengelolaan limbah plastik yang baik terbukti menurunkan risiko anak-anak di Bantar Gebang menanggung dampak buruk limbah sampah," terang Aristo Kristandyo, Senior VP Marketing PT Bina Karya Prima, dalam keterangan resminya.

Hal ini pun tengah dikerjakan oleh pemerintah DKI Jakarta. Menurut Kepala Unit Pengelola Sampah Terpadu (UPST) Bantar Gebang, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Agung Pujo Winarko, membuang sampah sesuai jenisnya akan memudahkan pengelolaan kembali dan dapat menghindari penumpukan sampah.

"Tumpukan sampah yang tidak bisa didaur ulang merupakan sumber penyakit serta pencemaran udara," terang Agung Pujo. Itu secara tidak langsung juga memberi dampak pada kesehatan anak-anak Bantar Gebang yang setiap harinya mesti berjibaku dengan sampah di lingkungan rumahnya.

Di sisi lain, memfasilitasi anak-anak Bantar Gebang untuk tetap mendapat akses pendidikan dilakukan oleh Juwarto, pendiri sekolah Alam Tunas Mulia. Sekolah gratis sangat dibutuhkan anak-anak di wilayah tersebut, sehingga mereka tetap teredukasi dengan baik dan setidaknya masih ada harapan untuk hidup yang lebih baik.

Sekolah yang dikelola Juwarto tak hanya mengajarkan pendidikan formal, tetapi mengajak anak-anak untuk berkreasi dengan sampah yang ada di sekitarnya. Ia percaya bahwa sebagian sampah punya nilai yang bisa dikelola oleh warga di Bantar Gebang.

Produk kerajinan dan semacamnya adalah bukti bahwa sampah bisa didaur ulang dan punya nilai jual maupun nilai guna yang tinggi. Hal ini menjadi bagian dari pendidikan yang diajarkan di sekolah gratis tersebut.

"Ilmu yang diajarkan di sekolah ini bukan hanya soal pendidikan formal, tapi memberikan bekal penting untuk anak-anak sehingga dirinya bermanfaat," ungkap Juwarto.

(Martin Bagya Kertiyasa)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement