Tidak hanya masih sedikit dari segi jumlah angka kasus, varian baru yang pertama kali terdeteksi di India itu disebut Prof. Zubairi belum memiliki bukti lebih menular atau lebih mematikan jika dibandingkan dengan subvarian Omicron sebelumnya.
“Belum ada data yang menyatakan subvarian ini menyebabkan infeksi yang lebih serius ketimbang Omicron awal,” tambahnya.
Ia menambahkan, dari beberapa ahli menyebut varian ini justru yang paling tak mematikan.
“Bahkan beberapa ahli menyebut BA.2.75 itu subvarian yang paling tidak mematikan," pungkas Prof. Zubairi.
Subvarian BA.2.75 sendiri diketahui pertama kali ditemukan di India dan sejauh ini baru tersebar di 10 negara. Sampai saat ini, kasus BA.2.75 belum ditemukan di Indonesia. BA.2.75 sendiri saat ini disebut Badan Kesehatan Dunuia (WHO) berada di kategori Variant of Concern (VOC) Lineage Under Monitoring (LUM), yang artinya varian ini sedang diawasi secara ketat oleh WHO.
BACA JUGA:Singapura Laporkan Kasus Kedua Omicron BA.2.75
BACA JUGA:Singapura Temukan Kasus Cacar Monyet Lagi, Pasien Ada Ruam di Anus
(Rizky Pradita Ananda)