7 EFEK negatif sering marah bagi kesehatan tubuh akan dibahas dalam artikel ini agar Anda mewaspadainya. Marah sering diekspresikan dengan membentak atau melakukan hal-hal yang merusak. Nah, amarah sendiri ternyata berpengaruh besar bagi kesehatan lho.
Dilansir dari laman VOI, berdasarkan fakta menunjukkan bahwa orang yang marah bisa berpikir lebih rasional. Tetapi ketika Anda marah dengan cara yang tidak sehat, seperti menahan amarah maka hal sebaliknya akan terjadi, temper tantrum yang buruk dapat mendatangkan malapetaka bagi kesehatan Anda.
Jika kesabaran Anda sudah mulai menipis, maka mengolah dan mengisinya bisa jauh dari 7 efek negatif berikut di bawah ini.
1. Risiko Pada Jantung

(7 Efek Negatif Sering Marah bagi Kesehatan Tubuh, Foto: Healthline)
Menurut Chris Aiken, MD., seorang instruktur dan psikiater klinis di Fakultas Kedokteran Universitas Wake Forest dan direktur Pusat Perawatan Mood di North Carolina, efek kemarahan paling merusak jantung.
Dalam waktu dua jam setelah ledakan kemarahan, seseorang dua kali lebih mungkin mengalami serangan jantung. Sambil menahan amarah juga bisa menimbulkan risiko yang sama.
BACA JUGA : 3 Zodiak Ini Gampang Banget Marah, Berani Senggol Tanggung Akibatnya!
2. Meningkatkan Risiko Terkena Stroke
Sebuah penelitian menemukan, ada risiko tiga kali lebih tinggi yang dialami seseorang ketika sering marah. Risiko mengalami penggumpalan darah di otak atau pendarahan di otak, memicu stroke.
Mary Fristad, Ph.D., seorang profesor psikologi dan psikiatri di Ohio State University, menyarankan Anda harus mempertimbangkan strategi lebih positif yang dapat mengurangi risiko penurunan kesehatan.
BACA JUGA : Ditagih Utang Marah-Marah, Awas Risiko Stroke dan Masalah Mental!
3. Melemahkan sistem kekebalan tubuh
Mengingat pengalaman yang menyulut amarah, menurut penelitian dari Harvard University, dapat menurunkan kadar antibodi imunoglobulin A selama 6 jam. Strategi koping yang disarankan Fristad antara lain berkomunikasi dengan tegas, dan memecahkan masalah secara efektif.
Bahkan Fristad juga menyarankan menggunakan humor untuk melepaskan amarah. Ia juga merekomendasikan untuk menata ulang pemikiran yang hitam putih atau benar dan salah, menjadi lebih heterogen. Namun langkah awal yang perlu dilalui adalah mengetahui cara menenangkan diri.
4. Kecemasan Meningkat
Kemarahan dan kecemasan adalah sepasang masalah yang bisa berjalan beriringan. Sebuah studi tahun 2012 dalam jurnal Cognitive Behavior Therapy menemukan, bahwa kemarahan dapat memperburuk gejala kecemasan umum.
5. Kemarahan Juga Terkait Dengan Depresi
Aiken menyarankan, bagi seseorang yang emosional atau mudah tersinggung, perlu menyibukkan diri dengan kegiatan positif untuk menghindari risiko overthinking hingga depresi.
Aktivitas positif ini berguna untuk menarik fokus, sehingga tidak ada ruang untuk membakar emosi di kepala atau dada. Maka akan menjauhkan pula dari depresi.
6. Menurunkan Fungsi Paru-paru
Sekelompok ilmuwan di Harvard University, melibatkan 670 partisipan pria selama 8 tahun untuk mengukur tingkat kemarahan. Kemudian menilai perubahan apa yang terjadi pada paru-paru mereka.
Pria yang memiliki tingkat permusuhan yang buruk secara signifikan, berisiko mengalami masalah pernapasan. Peningkatan hormon stres saat merah berpengaruh pada peradangan di salah satu saluran di paru-paru.
7. Kemarahan Memperpendek Hidup
Fristad menambahkan, stres dan kemarahan bisa memperpendek hidup Anda. Studi yang membuktikan temuan ini dilakukan di University of Michigan selama 17 tahun, dan menemukan bahwa pasangan yang menahan amarah memiliki rentang hidup yang lebih pendek.
Sementara itu, pasangan yang mampu berkomunikasi secara positif lebih bahagia dan hidup lebih lama. Mereka juga jarang marah karena adanya komunikasi yang seimbang, sehingga membuat pikiran tenang dan tidak mudah tersulut emosi.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.