Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kekhawatiran Terburuk WHO soal Cacar Monyet: Bakal Jadi Endemi Terbesar di Luar Afrika

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Kamis, 09 Juni 2022 |14:04 WIB
Kekhawatiran Terburuk WHO soal Cacar Monyet: Bakal Jadi Endemi Terbesar di Luar Afrika
Ilustrasi Cacar Monyet. (Foto: Reuters)
A
A
A

TERUS meningkatnya korban cacar monyet membuat Badan Kesehatan Dunia (WHO) khawatir. Pasalnya, jika terus bertambah bukan tidak mungkin banyak kawasan akan berstatus endemi baru.

Memang, saat ini cacar monyet secara definisi masih dikategorikan sebagai penyakit endemi di wilayah Afrika, tepatnya Afrika Barat dan Tengah. Selain negara-negara tersebut, banyak negara sudah tidak lagi mendapati kasus serupa bertahun-tahun lamanya.

Menurut laporan NBC News, secara historis, cacar monyet itu tidak menular dengan mudah dari manusia ke manusia. Wabah terbesar yang pernah terjadi di luar Afrika tercatat adalah ditemukannya 47 kasus cacar monyet di Amerika Serikat pada 2003.

Tapi, di kasus tersebut tidak ditemukan penularan virus monkeypox dari manusia ke manusia, melainkan semua pasien yang dinyatakan cacar monyet terinfeksi virus monkeypox dari kontak langsung dengan jenis anjing tertentu yang sakit, dalam hal ini 'prairie dogs'.

Pada wabah yang terjadi di 29 negara, cacar monyet menular dari manusia ke manusia didominasi karena kontak erat dan dekat dengan pasien, melibatkan paparan ruam atau lesi orang yang terinfeksi.

"Saat ini kita berisiko terhadap virus yang mungkin menjadi endemik karena penularannya banyak terjadi dari manusia ke manusia. Terlebih, ketidakmampuan kita untuk menghentikan siklus penularannya," kata Amira Albert Roess, profesor kesehatan global dan epidemiologi Universitas George Mason, dikutip MNC Portal, Kamis (9/6/2022).

Roess melanjutkan, ada beberapa faktor yang membuat penyakit cacar monyet ini sedikit lebih sulit dicegah penularannya. Pertama, kasus yang ditemukan sulit diidentifikasi.

"Pasien mengalami ruam yang kerap disalahartikan sebagai cacar air, herpes, atau sifilis. Terlebih, pada beberapa kasus ruam muncul di area genital, sehingga lebih sulit untuk dideteksi," kata Roess.

Faktor kedua adalah para ahli penyakit khawatir bahwa AS tidak merespons tes dengan cukup cepat untuk mengidentifikasi kasus baru tepat waktu. "Diperlukan beberapa hari sejak sampel diambil hingga akhirnya diagnosis keluar," tambah Roess.

Lebih lanjut, dr Stuart Isaacs, seorang profesor kedokteran di University of Pennsylvania mengatakan bahwa virus monkeypox ini berpotensi menjadi endemik, khususnya di AS, jika terjadi lonjakan kasus yang masif.

"Kami masih terlalu dini untuk benar-benar mengatakan secara pasti bahwa cacar monyet tidak akan meledak kasusnya, meskipun kemungkinannya masih sangat rendah," kata dr Isaacs.

Semenara itu, alasan Afrika menjadi endemik karena negara tersebut punya reservoir hewan. "Virus ini menyebar di antara hewan dan kemudian melompat ke manusia," tambah Isaacs.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement