Selain itu, kaum Tsamud dan ‘Ad juga dipercaya pernah menghuni kota ini. Sekitar abad ke-13, Al Ula bertransformasi menjadi kota yang padat.
Perkembangan penduduk ini terjadi lantaran wilayah Al Ula dijadikan jalur perdagangan rempah-rempah.
Julukan kota hantu tersemat untuk Al Ula karena tidak dihuni oleh satu orangpun saat ini. Bahkan, tidak ada pedagang atau turis yang memadati lokasi ini.
Berbeda dengan kota lain seperti Petra di Yordania. Di sisi lain, sebagian masyarakat Saudi enggan mendatangi Al Ula karena meyakini bahwa kota ini telah dikutuk, saat bangsa Nabath menolak memeluk Islam dan tidak ingin meninggalkan dewa yang mereka sembah.
Reuters menyebut, keputusan pemerintah Arab Saudi untuk ingin menjadikan Al Ula sebagai destinasi wisata cukup tepat.
Sebab, langkah ini mampu menggaet wisatawan asing, terutama nonmuslim untuk datang dan mengetahui sejarah beserta situs pra Islam di Al Ula. Bahkan, bisa pula dijadikan sarana untuk memperkuat identitas nasional.
(Kurniawati Hasjanah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.