Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Berenang di Sungai Aare Ternyata Bahaya, Insiden Anak Ridwan Kamil Bukan yang Pertama

Intan Afika Nuur Aziizah , Jurnalis-Sabtu, 28 Mei 2022 |10:30 WIB
Berenang di Sungai Aare Ternyata Bahaya, Insiden Anak Ridwan Kamil Bukan yang Pertama
Sungai Aare di Swiss (dok YouTube/Jose Gonzales)
A
A
A

SUNGAI Aare di Swiss kini menuai sorotan karena menjadi lokasi hilangnya putra Ridwan Kamil, Emmeril Khan Mumtadz atau biasa dipanggil Eril. Sungai ini ternyata berbahaya bagi perenang pemula.

Berenang di sungai sebenarnya telah menjadi tradisi orang Swiss. Selain itu untuk wisatawan mancanegara, renang di sungai juga kerap masuk daftar aktivitas yang perlu dijajal. Salah satu sungai yang ramai dikunjungi adalah Sungai Aare di Bern.

Meski demikian, berenang di Sungai Aare berbahaya bagi pemula loh.

Insiden dan kecelakaan yang menimpa Eril ini bukan pertama kalinya terjadi. Korban yang meninggal pun tak hanya wisatawan asing, tapi juga penduduk setempat.

Dikutip dari Swissinfo.ch, berenang di sungai dan danau memang menjadi hiburan musim panas yang populer di Swiss.

infografis

BACA JUGA:7 Destinasi Wisata di London Jadi Lokasi Film Ikonik, Apa Saja?

Namun, aktivitas ini bisa menjadi sangat berbahaya, terutama bagi warga asing yang belum pernah berenang di sini sebelumnya. Bahkan, jumlah kecelakaan terus meningkat setiap tahun.

Sebanyak 44 orang meninggal akibat kecelakaan saat berenang di Sungai Aare pada Agustus 2001. Jumlah itu hampir sama dengan total korban tenggelam sepanjang tahun sebelumnya.

Adapun perincian korban adalah 23 meninggal di sungai dan 12 di danau. Sisanya meninggal di kolam renang.

Swiss Life Saving Society (SLSS) sebelumnya telah memperingatkan bahwa banyak kecelakaan terjadi karena perenang mengabaikan rekomendasi keselamatan. Di sisi lain, cuaca hujan di bulan Juli juga menjadi salah satu faktor kecelakaan tersebut.

Pasalnya, saat cuaca berubah menjadi panas di akhir Juli, sungai-sungai di Swiss menjadi penuh, deras dan berbahaya. SLSS mengatakan, keselamatan perenang juga terancam karena kurangnya penjaga pantai atau sungai.

"Banyak pemerintah daerah yang kehabisan dana atau kesulitan menemukan penjaga pantai profesional dan terlatih. Banyak pemandian umum telah mengurangi jumlah penjaga pantai yang dipekerjakan," kata Direktur SLSS, Daniel Frei.

infografis

BACA JUGA:Dear Traveler, Intip Aturan Perjalanan Terbaru untuk Naik Pesawat Rute Domestik

Dikutip dari thelocal, seorang warga negara Swiss berusia 29 tahun dan seorang warga Spanyol berusia 34 tahun juga menjadi korban sungai ini pada 2015.

Keduanya terjatuh dari perahu karet, setelah menabrak tiang jembatan kayu ketika sedang asyik menikmati wisata arung jeram.

Kedua wanita itu tenggelam dalam waktu lama, setelah rakitnya bertabrakan dengan penyangga. Kemudian, mereka diselamatkan dari sungai dengan bantuan peserta arung jeram lain dan orang yang lewat, kata polisi wilayah setempat.

Orang yang lewat sudah mencoba menyadarkan dua wanita tersebut di tepi sungai, sebelum petugas penyelamat tiba. Dua ambulans lantas membawa wanita itu ke rumah sakit, di mana mereka kemudian dinyatakan meninggal dunia, kata polisi.

Melihat banyaknya insiden tersebut, kini patroli selalu berlayar di Rhine selama sepuluh jam setiap hari di musim panas. Pemadam kebakaran, kontrol perbatasan dan polisi pun turut berbagi tugas.

Tidak hanya untuk siap siaga dalam keadaan darurat, tetapi juga untuk mencegah kecelakaan sejak awal.

Selain itu, Swiss Lifeguard Association (SLRG) juga sudah mengeluarkan flyer dalam 10 bahasa dan peraturan mengenai berenang di sungai-sungai dan danau, khususnya untuk warga asing.

Hal ini dilakukan sebagai langkah preventif, karena polisi tidak mungkin berpatroli di semua danau dan sungai Swiss.

(Kurniawati Hasjanah)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement