Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Indonesia jadi Tuan Rumah GPDRR, Simak Dulu Informasinya

Fitria Dwi Astuti , Jurnalis-Senin, 23 Mei 2022 |19:07 WIB
Indonesia jadi Tuan Rumah GPDRR, Simak Dulu Informasinya
Gunung Agung di Bali di balik "wibawa" dan "keanggunan" yang dimilikinya menyimpan potensi meletus karena masih berstatus gunung berapi aktif. (Foto: Barry Kusuma)
A
A
A

Indonesia kembali mendapatkan kehormatan sebagai tuan rumah perhelatan event tingkat dunia. Tahun 2022 selain sebagai tuan rumah dalam Konferensi G20 dan beberapa event internasional lainnya, yang akan berlangsung pada bulan mei ini yaitu konferensi Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR).

GPDRR ini merupakan forum internasional untuk melakukan pembahasan dan diskusi terkait langkah antisipasi, pengurangan risiko, dan solusi untuk menangani bencana dalam skala dunia. Forum yang digelar tiap 2 tahun sekali ini dicetuskan oleh PBB, terkait banyaknya risiko bencana alam yang bisa terjadi di banyak negara di dunia.

 

1. Digelar di Bali

GPDRR 2022 ini merupakan gelaran ke-7. Sebagai tuan rumah, Indonesia menentukan Bali sebagai lokasi GPDRR dengan mempertimbangkan kesiapan fasilitas, akses, infrastruktur, dan pengalaman dalam melaksanakan event internasional sebelumnya.

Berlangsung pada 23-28 Mei 2022, GPDRR ini dihadiri lebih dari 5.000 peserta secara online dan offline dari 193 negara di Nusa Dua, Bali. Para peserta konferensi ini berasal dari kalangan pemerintahan, organisasi nonprofit atau LSM, akademisi dunia, serta sejumlah institusi internasional. Mengingat banyaknya jumlah peserta yang hadir dan kurva pandemi Covid-19 pun telah menurun, Pemerintah tetap memprioritaskan penerapan protokol kesehatan sepanjang acara.

2. Mengangkat isu dunia

 

Mangrove Forest Park Langsa di Aceh (Foto : Wonderfulimage/Azhari Setiawan)

Banyak negara telah mengalami krisis yang disebabkan pandemi Covid-19, GPDRR 2022 inilah menjadi wadah dan agenda penting sebagai upaya dalam pengurangan risiko bencana oleh pemerintah, PBB, dan pemangku kepentingan. Oleh karenanya tema utama yang diangkat GPDRR 2022 adalah From Risk to Resilience: Towards Sustainable Development for All in a Covid-19 Transformed World.

Topik turunan dari tema tersebut antara lain, Covid-19 Recovery, Disaster Risk Governance, dan DRR Financing. Pembahasannya terbagi menjadi sejumlah fokus. Pertama, terkait dengan potensi bencana alam geologis dan vulkanologis, seperti letusan gunung berapi dan gempa bumi. Kedua, hidrometeorologi kering, contohnya kebakaran hutan dan bencana kekeringan yang berkepanjangan. Ketiga, hidrometeorologi basah, sebagai contoh banjir rob, banjir akibat curah hujan tinggi, dan pengikisan pantai akibat gelombang laut. Keempat, bencana non-alam, seperti pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh negara di dunia.

3. Peranan GPDRR

Para pemangku kepentingan dan berbagai kalangan dari sejumlah negara ini akan merancang solusi strategis tingkat global untuk meminimalkan risiko bencana atau disebut juga Sendai Framework of Disaster Risk Reduction 2015-2030.

Prioritas penanganan dampak pandemi Covid-19 juga menempati pembahasan khusus. GPDRR juga diharapkan menghasilkan solusi dalam pengendalian pandemi Covid-19 serta dukungan untuk pemulihan pascapandemi.

GPDRR juga berperan sebagai suatu wadah kolaborasi dan solidaritas internasional dalam tata kelola risiko bencana serta membentuk suatu fondasi yang kuat untuk menangani risiko bencana. Momentum ini pun diharapkan tidak hanya berlangsung dalam satu kali kesempatan, tetapi terus berkelanjutan memberikan manfaat untuk masa depan. GPDRR juga merupakan bentuk perwujudan gerakan kemanusiaan skala dunia atas terjadinya bencana.

4. Bagi Indonesia

 

Papua merupakan daerah yang memiliki hutan terluas (Foto : Wonderfulimage/Masday)

 BACA JUGA: Mau Nongkrong di Coffee Shop Bali? Berikut Pilihannya

Indonesia patut berbangga, GPDRR ini baru pertama kalinya digelar di Asia dan Indonesia terpilih sebagai tuan rumah. Selain menjadi suatu kehormatan tersendiri, gelaran GPDRR ini juga menunjukkan eksistensi Indonesia di mata dunia dan pengakuan atas peranan dalam penanganan dan pengelolaan bencana.

Di sisi lain, di balik pesona Indonesia, terdapat potensi ancaman bencana alam yang bisa jadi pembelajaran banyak negara untuk mengambil langkah antisipasi. Posisi geografis Indonesia tepat berada di rangkaian gunung berapi (vulkanik) atau cincin api. Membentang dari Sabang sampai Merauke, kita bisa menemukan potensi vulkanik di berbagai daerah, mulai dari Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Gunung Tangkuban Perahu yang masih aktif, hingga Gunung Tambora.

Indonesia juga berada di antara 2 patahan lempeng besar dunia yang dapat berisiko memicu gempa tektonik. Ditambah lagi dengan sekitar 70% wilayah merupakan area lautan dengan lempengan patahan bawah laut. Pergerakan lempeng patahan bawah laut ini mampu memicu gempa tektonik dan gelombang tsunami.

Di sisi lain, Indonesia juga memiliki hutan hujan tropis di Kalimantan dan Papua yang berperan sebagai salah satu aspek pengendali perubahan iklim. Jadi, bisa dikatakan Indonesia memiliki andil dalam peranan sebagai paru-paru dunia.

Dengan sejarah berbagai bencana alam, mulai letusan gunung, gempa bumi, kebakaran hutan, tsunami, dan pandemi Covid-19, Indonesia merupakan lokasi yang tepat sebagai pembelajaran atas bencana. Dapat juga dikatakan, Indonesia mampu menjadi suatu laboratorium bencana bagi dunia.

Meskipun rentan bencana, Indonesia juga cukup sigap dalam menangani setiap bencana yang terjadi. Pemerintah Indonesia selama ini mempunyai komitmen tinggi terhadap potensi bencana yang bisa saja terjadi. Jadi, studi terkait bencana Indonesia juga menjadi suatu pembelajaran bagi dunia.

 

5. Berdampak pada pariwisata

 

Wisatawan #BeliKreatifLokal khas Bali (Foto : Indonesia.travel/Fikry Auliya)

GPDRR 2022 yang digelar di Bali, akan menjadi suatu peluang besar bagi kebangkitan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif #DiIndonesiaAja. Digelarnya GPDRR juga turut mengangkat nama Bali dan menunjukkan pada dunia bahwa wisata Bali telah dibuka dan aman untuk dikunjungi.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menuturkan, sejak pembukaan Bali untuk wisatawan mancanegara, terjadi peningkatan jumlah kunjungan. Meskipun demikian, untuk mencapai target kunjungan wisatawan 3,6 juta orang pada 2022 masih membutuhkan beragam upaya dan strategi yang tepat.

Selain jumlah kunjungan wisatawan, destinasi yang berkualitas juga menjadi perhatian utama. Pemulihan ekonomi sektor pariwisata pascapandemi juga terkait dengan perbaikan fasilitas dan standardisasi CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, Environmental Sustainability) yang semakin menyeluruh.

“Fokus Bali tidak hanya jumlah turis, tetapi juga lebih peduli pada aspek kesehatan, kebersihan, keberlanjutan lingkungan hidup, serta quality of spending wisatawan yang juga bisa mendukung sustainable environment desa wisata sesuai CHSE,” papar Sandiaga.

Dengan banyaknya event internasional yang diselenggarakan #DiIndonesiaAja, sudah sepatutnya kita berbangga akan keunggulan pariwisata dan budaya Indonesia. Saatnya kita berkontribusi membangkitkan ekonomi daerah di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang terdampak pandemi selama dua tahun dengan kita berwisata #DiIndonesiaAja dan #BeliKreatifLokal. Sambil mempersiapkan diri untuk keliling Indonesia, ada baiknya Anda follow akun instagram @pesona.indonesia untuk mendapatkan referensi dan rekomendasi destinasi wisata dan ekonomi kreatif yang akan Anda kunjungi. Jangan lupa untuk mengikuti Pesona Punya Kuis (PUKIS) yang diselenggarakan Kemenparekraf dua minggu sekali di setiap bulannya, ada banyak merchandise dan uang jutaan rupiah dari Wonderful Indonesia. Yuk, saatnya liburan #DiIndonesiaAja.

(WLD/VAL)

CM

(Fitria Dwi Astuti )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement