INDONESIA menghasilkan 93 juta sampah sedotan plastik per tahun. Hal ini diungkapkan Dirjen Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup, Rosa Vivien Ratnawati. Ia juga meminta masyarakat menghindari pemakaiannya demi mengurangi pencemaran sampah plastik yang kian mengkhawatirkan.
"Sampah sedotan plastik itu kalau disusun bisa mencakup jarak dari Jakarta sampai Meksiko," ujarnya belum lama ini.

Vivien menjelaskan, persoalan sampah plastik yang tercecer di lingkungan terbuka seharusnya jadi keprihatinan semua kalangan mengingat dampaknya yang sangat besar pada perubahan iklim di level global. Dia bilang, meski pemerintah telah berupaya keras untuk menekan pencemaran sampah plastik di lingkungan bebas, warga juga dapat berpartisipasi dengan mengadopsi pola pikir baru terkait pengelolaan sampah plastik. Hal ini sangat penting untuk menjaga kebersihan lingkungan.
"Kesadaran individu yang paling utama", ujarnya menekankan. "Orang perlu melihat sampah sebagai tanggung jawab pribadi, bukan lagi tanggung jawab Pemerintah Daerah semata."
Menurut Vivien, perubahan pola pikir dan perilaku dalam pengurangan sampah plastik bisa dimulai dari hal-hal kecil, semisal memilah sampah plastik rumah tangga, sedapat mungkin menggunakan kemasan air minum yang awet dan mengurangi pemakaian kantong kresek sekali pakai.
Sementara itu, Direktur Sustainability Development Le Minerale Ronald Atmaja mengatakan, sampah seharusnya bisa menggerakkan ekonomi. Penting membantu pemulung dan lapak di berbagai kota mengumpulkan lebih banyak sampah plastik agar bisa diolah dan dijual kembali untuk memenuhi keperluan industri daur ulang dalam negeri.