Oleh karena itu, menurut Dokter Brahmana, pasien kanker ovarium yang sudah selesai menjalani pengobatan perlu dipantau secara terus menerus. Setidaknya mereka perlu kontrol teratur ke dokter tiga bulan sekali untuk mendeteksi ada tidaknya keluhan, benjolan baru dan lainnnya.
"Kanker ovarium perlu dipantau terus menerus. Tidak bisa setelah operasi dan kemoterapi maka selesai. Paling tidak dia harus kontrol teratur 3 bulan sekali untuk melihat ada tidaknya keluhan, munculnya benjolan baru dan lainnya," tutur dia.
Saat melakukan kontrol ke dokter, penyintas bisa menjalani sejumlah tes dan pencitraan seperti CT-scan, MRI dan lainnya untuk mengonfirmasi adanya kekambuhan atau tidak.
Kanker ovarium dikatakan sebagai salah satu sillent killer karena tidak memiliki gejala khas yang dirasakan pasien pada stadium dini. Kanker dapat berasal dari ovarium kanan atau kiri atau keduanya.
Ovarium berukuran kecil sekitar 2cm, tetapi bila menjadi tumor atau kanker maka ukurannya bisa menjadi 50 cm dan terkadang walau ukuran tidak besar tetapi menyebar ke organ lain seperti paru-paru.
Kanker ovarium terbagi mulai stadium 1 hingga empat dan sayangnya sebagian besar baru terdiagnosis pada stadium lanjut yakni 3 dan 4. Hal ini karena perubahan dari normal menjadi kanker tidak melalui tahapan sejelas pada kanker serviks.