TIM ilmuwan rela berlayar ke tempat di dunia paling sulit dijangkau. Tujuannya agar mereka dapat mengetahui detil seberapa banyak dan seberapa cepat air laut naik imbas pemanasan global yang menggerogoti es Antartika.
Sebanyak 32 ilmuwan pada Kamis, 6 Januari 2022 lalu memulai misi yang akan memakan waktu lebih dari dua bulan di atas kapal penelitian Amerika Serikat (AS).
Mereka penasaran untuk menyelidiki daerah penting di mana gletser Thwaites yang besar tetapi mulai mencair dan pada akhirnya mungkin kehilangan sejumlah besar es karena air mulai menghangat.
Melansir VOA Indonesia, posisi Thwaites menghadap Laut Amundsen. Gletser seukuran negara bagian AS, Florida, itu mendapat julukan 'gletser kiamat' karena banyaknya es yang dimilikinya.
Sehingga jika semua es tersebut mencair, ketinggian permukaan air laut bisa naik lebih dari 65 sentimeter selama ratusan tahun.
Baca juga: 7 Fakta Menarik Perjalanan ke Antartika, Benua Indah di Belahan Bumi Selatan

(Foto: Reuters)
Pentingnya gletser itu membuat AS dan Inggris ikut serta dalam misi senilai USD50 juta untuk mempelajari Thwaites, gletser terluas di dunia melalui darat dan laut.
Thwaites terletak jauh dari stasiun penelitian benua mana pun. Ia berada di bagian barat Antartika, timur semenanjung yang dulunya merupakan area yang paling dikhawatirkan para ilmuwan.
“Thwaites adalah alasan utama saya mengatakan bahwa kita memiliki ketidakpastian yang begitu besar dalam proyeksi kenaikan permukaan laut di masa depan dan itu disebabkan karena (Thwaites) adalah daerah yang sangat terpencil, sulit dijangkau,” Pakar Kelautan Universitas Gothenburg, Anna Wahlin, melansir Associated Press.
Mencairnya Thwaites menyebabkan sekitar 50 miliar ton es jatuh ke dalam laut per tahunnya. Survei Antartika Inggris mengatakan, gletser bertanggung jawab atas 4 persen kenaikan laut secara global, dan kondisi yang menyebabkannya kehilangan lebih banyak es semakin cepat, kata ilmuwan es Universitas Colorado Ted Scambos dari stasiun darat McMurdo bulan lalu.
Ilmuwan es Universitas Negeri Oregon, Erin Pettit menjelaskan, Thwaites tampaknya runtuh dalam tiga cara, yaitu mencair dari bawah oleh air laut, bagian daratan gletser 'kehilangan cengkeramannya' pada tempatnya menempel di dasar laut, sehingga bongkahan besar bisa lepas ke laut dan kemudian mencair.
Sedangkan kemungkinan ketiga ialah lapisan es gletser pecah menjadi ratusan retakan seperti kaca depan mobil yang rusak. Inilah yang dikhawatirkan Pettit karena akan menjadi yang paling merepotkan dengan retakan sepanjang 10 kilometer yang terbentuk hanya dalam setahun.
Belum ada yang pernah menginjakkan kaki di wilayah permukaan utama di Thwaites sebelumnya. Pada 2019 silam, Wahlin berada dalam tim yang menjelajahi daerah tersebut dari kapal dengan menggunakan kapal robotik namun tidak pernah turun ke darat.
"Thwaites tampak berbeda dari lapisan es lainnya,” kata Wahlin.
“Ini hampir terlihat seperti tumpukan gunung es yang telah ditekan bersama. Jadi semakin jelas bahwa ini bukan es padat seperti rak es lainnya, es padat halus yang bagus. Ini jauh lebih bergerigi dan (seperti) bekas luka," tutupnya.
(Rizka Diputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.