SELAMA masa pandemi, para penyedia layanan kesehatan menjelaskan tentang dampak yang ditimbulkan dari lonjakan kasus Covid-19. Ketika kasus melonjak, rumah sakit yang dibanjiri pasien Covid-19 harus menunda berbagai prosedur pengobatan seperti operasi kanker dan penggantian katup jantung.
Penelitian baru juga memperingatkan bahwa saat ini telah terjadi penurunan substansial dalam diagnosis kanker. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Cancer, menggunakan data nasional dari Administrasi Kesehatan Veteran mulai dari 2018 hingga 2020.

Para peneliti menemukan bahwa prosedur skrining kanker menurun secara dramatis di tengah pandemi Covid-19. Kolonoskopi (yang digunakan untuk menyaring kanker usus besar) turun 45 persen pada 2020. Sementara, biopsi prostat (digunakan untuk menyaring kanker prostat) turun 29 persen.
Selain itu CT scan dada (digunakan untuk mendeteksi kanker paru-paru) turun 10 persen dan sitoskopi ( digunakan untuk mencari kanker kandung kemih) turun 21 persen. Diagnosis kanker baru juga menurun dari 13 persen menjadi 23 persen, tergantung pada jenis kankernya.
“Saya sepenuhnya mengantisipasi bahwa kita akan melihat konsekuensi dari hal ini selama dekade berikutnya,” kata Peneliti sekaligus Profesor dan Direktur Bedah Endovaskular di The University Of Maryland Medical System, dr. Brajesh Kumar Lal, merangkum dari Huff Post, Senin (20/12/2021).
Ia mengatakan, mendeteksi kanker sejak dini idealnya dilakukan sebelum seseorang memiliki gejala apa pun. Sebab penyakit ini akan menentukan masalah hidup atau mati seseorang. Para peneliti menemukan kolonoskopi dapat mengurangi risiko kematian akibat kanker usus besar di pada pasien berisiko tinggi hingga lebih dari 50 persen.
Sebagaimana diketahui, setiap bulan keterlambatan seseorang mendapatkan pengobatan kanker dapat meningkatkan risiko kematian sebesar 10 persen. Studi telah memberikan tanda bahaya tentang dampak langsung Covid-19 pada penyakit kanker di seluruh dunia.
Wakil Kepala Dokter dan Ahli Onkologi Medis di Memorial Sloan Kettering Cancer Center di New York City, Diane Reidy Lagunes mengatakan, satu studi penelitian dari Brasil telah menunjukkan bahwa penurunan jangka pendek dalam perawatan kanker menyebabkan peningkatan kematian terkait kanker.
"Tingkat kematian pasien rawat inap dengan kanker meningkat sebesar 14 persen pada 2020 dibandingkan dengan 2019,” kata Diane
Ia menambahkan peningkatan serupa dalam kematian terkait kanker juga diperkirakan terjadi di Inggris. Koalisi Kanker Paru Inggris memperkirakan bahwa penundaan diagnosis kanker paru-paru dapat meningkatkan kematian dalam lima tahun setelah diagnosis sekira 5 persen.
Temuannya ini sangat penting untuk dipertimbangkan. Sebab mereka tidak hanya menunjukkan bahwa skrining kanker turun lebih awal pada masa pandemi. Ketika sebagian besar dunia melakukan lockdown, kebanyak para penderita memilih untuk bertahan di rumah.
Baca juga: Angka Kematian Tinggi, Deteksi Dini Kanker Paru Perlu Ditingkatkan
"Kami masih belum pulih," kata Lal.
Sependapat dengan pemikiran Lal, Diane pun turut memberikan pendapatnya. Menurutnya Covid-19 ini memiliki dampak yang amat sangat besar bagi perawatan pasien penyakit kanker.
“Ini akan memakan waktu bertahun-tahun sebelum kami benar-benar mengukur dampak Covid-19 terhadap perawatan kanker," lanjut Diana.
Meski demikian, Lal mengatakan masih ada solusi yang relatif mudah yang dapat membantu. Salah satunya adalah terus memanfaatkan layanan telemedicine. Hampir setiap negara bagian telah melonggarkan peraturannya untuk mengizinkan penyedia layanan kesehatan menawarkan pengobatan jarak jauh kepada pasien.
Ini sangat membantu bagi para pasien yang tidak dapat datang ke kantor atau memilih untuk tidak datang selama masa pandemi Covid-19. Lal yakin dokter dapat menggunakan teknologi tersebut untuk menjangkau pasien yang melewatkan pemeriksaan rutin dan membawa mereka kembali pengobatan.
Perlu diketahui masyarakat, rumah sakit juga dapat memisahkan pasien Covid-19 dari pasien non-Covid-19. Hal ini dapat dilakukan dengan catatan sejauh rumah sakit tersebut mampu saat menangani lonjakan kasus.
“Kegiatan penyaringan ini dilakulan di area rumah sakit yang tidak memiliki banyak lalu lintas, atau mungkin bahkan di luar rumah sakit utama di ruangan yang lebih kecil, sehingga pasien tidak berisiko tinggi,” tutup Lal.
(Dyah Ratna Meta Novia)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.