KISAH Prestian Yuliana dan Prestian Yuliani , anak kembar siam, mengharukan media sosial pagi ini, Jumat (29/10/2021). Mereka tak menyangka prediksi ilmu kedokteran bisa dipatahkan dan itu terjadi di kehidupannya.
Ya, akun Twitter @FYudiWibowo4 yang membagikan kisah mengharukan ini. Diterangkan di sana kalau Yuliana dan Yuliani terlihat sebagai bayi kembar siam dengan kepala menyatu.

"Balada sebuah masterpiece. Banyak orang meragukan daya hidup kembar siam pasca operasi, paling banter cuma bertahan satu atau dua tahun. Tapi Profesor Padmosantjojo, dokter ahli bedah saraf, bertekad untuk melawan takdir itu," tulis si netizen di awal cerita.
Di unggahan tersebut pun kita bisa lihat bersama foto Yuliana dan Yuliani semasa kecil. Kepala mereka menyatu di bagian atas dan ternyata kondisi itu bisa dipisahkan.
Cerita berlanjut, diterangkan bahwa hari itu, 21 Oktober 1987, Dokter Padmo, sapaan akrabnya, tengah merancang takdirnya sendiri. Tidak kurang dari 40 dokter yang terlibat dalam operasi paling rumit dalam sejarah kedokteran Indonesia ini.
Sebuah operasi saraf dempet kepala vertikal (kraniopagus), yang direncanakan selesai di atas 10 jam. Tim spesialis, yang dipimpin langsung oleh dokter kelahiran Kediri, 1937, itu, harus memisahkan selaput otak (duramater) dan membelah pembuluh darah vena (sinus sagitalis) di otak menjadi dua bagian untuk kedua bayi tersebut.
"Jelas ini rumit dan butuh tingkat presisi tinggi. Kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal. Pemisahan itu seperti membelah uang kertas tanpa merusak gambar pada masing-masing sisinya," ujar Padmo, dituliskan si netizen di unggahan Twitter yang sudah disukai lebih dari 30,5 ribu netizen.
Prestian Yuliana dan Prestian Yuliani lahir pada 31 Juli 1987 di Rumah Sakit Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Mengetahui kedua putrinya dempet kepala, Turaji, orangtua si anak kembar siam yang berprofesi sebagai tukang dan buruh, serta istrinya Hartini, nyaris pingsan.
Mereka dikabarkan stres dan menyerahkan segala urusan anaknya kepada rumah sakit. Karena tak tersedia peralatan kedokteran yang memadai, kembar itu diboyong ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Pasca operasi, kedua bayi itu sementara dititipkan di suatu ruangan khusus milik Departemen Sosial. "Setiap hari Dokter Padmo mengontrol kebutuhan nutrisi mereka," diterangkan dalam cerita tersebut.
Selama di Jakarta, seluruh biaya ditanggung oleh dokter berambut gondrong tersebut, termasuk menyediakan penginapan bagi kedua orangtua Yuliana dan Yuliani.
Bagi Padmo, Yuliana dan Yuliani adalah karya puncaknya sebagai dokter bedah saraf. "Aku tak ingin karyaku rusak. Aku harus openi (merawat)," kata si dokter.
Sudah terlalu banyak energi dan biaya pribadinya yang dipertaruhkan dalam 'proyek' mahal ini. Itu sebabnya ia tak ingin sia-siakan.