ADANYA mutasi Covid-19 membuat banyak vaksin menjadi tidak efektif lagi. Oleh karena itu, dibutuhkan suntikan dosis ketiga untuk meningkatkan antibodi.
Apalagi, salah satu vaksin yang digunakan di Indonesia seperti Sinovac efikasinya mengalami penurunan setelah 6 bulan. Nah, baru-baru ini sebuah penelitian mengamati respon dari percampuran vaksin Covid-19.
Melansir Reuters, hasilnya menunjukkan hasil yakni dengan disuntikkan booster (penguat) vaksin CanSinoBIO (6185.HK) usai menerima vaksin Sinovac dosis pertama atau dosis kedua, menghasilkan respon antibodi yang jauh lebih kuat daripada hanya mengandalkan suntikan vaksin Sinovac (SVA.O) saja sebagai booster.
Vaksin milik CanSino, memang diklaim hanya memerlukan satu bidikan, bukan dua. Meskipun angka kemanjurannya lebih rendah dibanding Pfizer dan Moderna, vaksin ini menawarkan beberapa keunggulan dibandingkan inokulasi mRNA mutakhir dari Pfizer dan Moderna. Vaksin CanSino lebih murah disimpan dan hanya memerlukan satu kali suntikan.
Dalam studi yang disebutkan, China menggabungkan vaksin Covid-19 yang berbeda pada kelompok orang tertentu di tengah kecemasan tentang akan berkurangnya perlindungan atau efektivitas vaksin seiring berjalannya waktu.
Berdasarkan makalah yang diterbitkan pada Senin 6 September kemarin (namun belum mengalami peer-review), peserta studi penelitian yang disuntik vaksin CanSinoBIO (6185.HK), dosis booster tiga sampai enam bulan setelah menerima suntikan Sinovac dosis kedua menunjukkan ada kenaikan rata-rata 78 kali lipat dalam menetralkan tingkat antibodi pada dua pekan kemudian.
Dari keterangan para peneliti dari otoritas pengendalian penyakit lokal, CanSinoBIO dan lembaga Cina lainnya. Kontras dengan yang menerima suntikan CanSinoBIO sebagai booster, golongan orang-orang yang menerima suntikan booster Sinovac saja menunjukkan peningkatan hanya 15,2 kali lipat dalam tingkat antibodi penetralisir.
Satu dosis Sinovac diikuti oleh booster CanSinoBIO pada interval satu atau dua bulan menghasilkan peningkatan 25,7 kali lipat dalam tingkat antibodi penetralisir, sementara dua dosis Sinovac menginduksi peningkatan 6,2 kali lipat saja.
Sebagai informasi, studi ini menganalisa data dari sebanyak 300 orang dewasa sehat dengan rentang usia 18 sampai 59 tahun. Untuk catatan, studi penelitian di atas tidak menilai perlindungan suntikan booster terhadap Covid-19 dan tidak menguji antibodi penetral terhadap varian Delta yang diketahui lebih menular.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.