RUPANYA istilah masuk angin dan kerokan sudah akrab di telinga orang Indonesia. Namun, bagaimana jika harus menjelaskannya kepada orang-orang maupun para dokter di AS?
Penerjemah medis bahasa Indonesia, Sandra Kosasih di California, Amerika bercerita suka dukanya menjalani profesi ini, terutama saat membantu pasien Covid-19 asal Indonesia.

Seperti dilansir dari Antara, keterbatasan bahasa Inggris seringkali menjadi kendala bagi warga Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat, khususnya ketika harus melakukan konsultasi di bidang kesehatan. Pasalnya, banyak istilah umum seperti masuk angin dan kerokan, yang sulit untuk diartikan dalam bahasa Inggris.
Hal ini diakui oleh warga Indonesia, Sandra Kosasih-Beauchamp, yang sudah tiga tahun belakangan ini berprofesi sebagai penerjemah medis bahasa Indonesia di Pasadena, California.
“Kan aku enggak bisa bilang, ‘wind inside,’” ujar Sandra kepada VOA belum lama ini.
Secara detil Sandra harus menjelaskan kepada dokter maksud dari penyakit ‘masuk angin’ yang biasa disertai gejala seperti tidak enak badan, sakit tenggorokan, batuk, atau pilek. Gejala-gejala ini dalam bahasa Inggris biasa disebut sebagai cold symptoms.
“Terus nanti pasiennya (menjelaskan) lebih detail lagi. Maksudnya yang sakit itu sebenarnya apa? Yang lebih dirasakan itu apa? Apa batuknya? Apa pileknya? Apa sakit tenggorokannya? Apa nggak enak badannya atau demam? Jadi nanti kita korek lagi gitu,” jelasnya.
Soal Kerokan
Tradisi Indonesia lainnya yang kerap menimbulkan kesalahpahaman menurut Sandra adalah kerokan yang biasa dilakukan saat ‘masuk angin.’ Jika tidak dijelaskan secara benar, hal ini bisa menimbulkan tanda tanya, bahkan merembet ke ranah hukum.
“Kalau masuk angin kerokan. Di (AS) itu bahaya, karena kalau dokter lihat itu ada bekas-bekas di punggung, misalnya ini di anak, takutnya itu mereka kira child abuse. Jadi mereka akan panggil social worker,” ujar perempuan kelahiran Austria tahun 1976 ini.
Dengan hadirnya Sandra sebagai penerjemah, ia juga bisa menjadi seperti ‘pendamai’ yang menjelaskan kepada tenaga kesehatan.
“Kerokan itu tekniknya dikerok aku bisa menjelaskan gitu. Jadi jangan sampai ada kesalahpahaman. Apalagi kalau orang tuanya tidak bisa menjelaskan bahasa Inggris secara benar,” jelas Sandra.
Mengingat bahwa Amerika Serikat adalah tempat pertemuan berbagai budaya, Sandra melihat bahwa para tenaga kesehatan di AS sudah biasa menghadapi berbagai penjelasan terkait kebudayaan dan tradisi yang berbeda. Namun, kembali lagi kepada tugasnya, Sandra harus siap untuk menjelaskan lebih dalam jika diperlukan.
“Kalau misalnya untuk kerokan, memang ada bahasanya khususnya kan namanya coining. Coining itu kan kerokan, atau kalau kita pakai kerokan yang kayak cup itu kan cupping. Itu kan ada, mereka kan tau. Semua orang Asia Tenggara kan melakukan praktik itu,” ujar perempuan berdarah Solo dan Austria ini.
Tidak hanya itu, sebagai penerjemah medis bahasa Indonesia, Sandra juga harus bisa menjelaskan mengenai budaya dan tradisi Indonesia, antara lain minum jamu hingga masakan tradisional seperti rendang.
“Kadang-kadang dokternya bingung. ‘Ini minum jamu apa? ‘Oh, jamu daun sirsak.’ Mereka sirsak juga enggak tau apa, jadi aku mesti menjelaskan,” katanya.
“(Pasien) juga harus menjelaskan dietnya. Dia makannya apa sehari-hari. Terus, dia menjelaskan, ‘oh, aku suka makan rendang.’ Nah, itu kan aku mesti (menjelaskan) dong, rendang itu beef stew with coconut milk and spices,” tambahnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.