Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Markis Kido Meninggal-Eriksen Kolaps, Begini Pesan Dokter Spesialis Jantung

Dyah Ratna Meta Novia , Jurnalis-Rabu, 16 Juni 2021 |11:58 WIB
Markis Kido Meninggal-Eriksen Kolaps, Begini Pesan Dokter Spesialis Jantung
Sakit jantung (Foto: Cardio metabolic institute)
A
A
A

Lalu bagaimana cara pencegahan dan penanganan pertama?

Dokter Habibie membeberkan sejumlah cara pencegahan cardiac arrest dan penanganan pertama pada orang yang mengalami serangan jantung.

Untuk cardiac arrest, pertama-tama yang harus ditelusuri adalah riwayat keluarga yang meninggal mendadak di usia muda. Sehingga, jika terjadi kasus demikian maka cara pencegahannya adalah dengan melakukan medical check up ke dokter jantung.

Tujuannya, untuk dinilai apakah orang yang bersangkutan memiliki risiko tinggi terjadinya cardiac arrest mendadak di masa depan atau tidak.

Sedangkan, cara penanganan pertama pada orang yang mengalami serangan jantung, yang dapat dilakukan adalah segera mencari pertolongan.

Habibie mengatakan penolong juga dapat mengecek kesadaran orang yang terkena serangan jantung dengan meraba nadi di pergelangan tangan atau leher.

“Apabila tidak didapatkan nadi, bisa memulai resusitasi jantung paru atau pijat jantung luar dan bantuan napas, sembari penolong lain bisa menghubungi ambulans untuk dapat segera membawa korban ke rumah sakit,” ujar Habibie.

Selain itu, jika penolong ingin memposisikan orang yang terkena serangan jantung, posisi yang benar adalah telentang dengan alas yang keras. Posisi ini memungkinkan dilakukannya pijat jantung luar.

Jika orang yang terkena serangan jantung dalam posisi duduk, ia mengkhawatirkan pompa darah dari jantung ke otak semakin sulit. Hal ini dapat membuat orang yang terkena serangan jantung akan semakin tidak sadar dan mempersulit pertolongan pijat jantung luar.

Habibie juga menyampaikan bagi orang-orang yang hobi berolahraga harus mawas terhadap kondisi tubuhnya sendiri. Apabila memiliki risiko penyakit jantung atau serangan jantung, ia menyarankan menghindari olahraga yang bersifat kompetitif.

“Pasien harus tahu kapan harus berhenti apabila mulai dirasakan dada tidak nyaman. Durasi olahraga yang aman bagi pasien jantung yang berisiko mengalami serangan jantung harus ditentukan berdasarkan uji latih jantung yang dilakukan oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah,” pungkasnya.

(Dyah Ratna Meta Novia)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement