Apa yang membuat Turkos begitu berat menceritakan pengalaman pahit tersebut?
Turkos mengaku kalau dirinya memiliki pikiran bahwa dia ingin dilihat sebagai anak yang sempurna di mata kedua orangtuanya. "Nah, kejadian pemerkosaan sebanyak dua kali adalah hal yang saya pikir tidak cocok dengan definisi anak membanggakan orangtua. Jadi, saya sembumyikan selama itu," kata Turkos.

Ia melanjutkan, para korban pemerkosaan sering sekali disalahkan terlebih mereka yang memilih untuk diam saja tanpa melawan. Bagi Turkos, itu adalah pernyataan yang sangat menyakiti dirinya.
"Kami sering disalahkan; Mengapa Anda tak maju? Mengapa Anda tidak beri tahu seseorang? Mengapa Anda memberi tahu tapi tidak dengan cara ini? Pernyataan itu malah membuat kami jatuh kembali ke dalam narasi 'korban yang sempurna' yang mana seharusnya korban melakukan sesuatu yang dikehendaki. Beginilah seharusnya....," katanya.
"Tidak ada alasan kenapa seseorang diperkosa, tidak ada satu cara untuk selamat dari pemerkosaan, tidak ada cara terbaik untuk melaporkan pemerkosaan, dan tidak ada waktu yang ideal untuk melaporkan. Kami para korban sudah melakukan yang terbaik dan itu tidak ada yang perlu disalahkan," tegas Turkos.
(Helmi Ade Saputra)