Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Benarkah Covid-19 Sebabkan Risiko Kerusakan Otak? Ini Hasil Penelitiannya

Wilda Fajriah , Jurnalis-Senin, 25 Januari 2021 |04:04 WIB
Benarkah Covid-19 Sebabkan Risiko Kerusakan Otak? Ini Hasil Penelitiannya
Ilustrasi virus corona covid-19. (Foto: Okezone)
A
A
A

WABAH covid-19 masih melanda secara global. Banyak orang terinfeksi penyakit akibat virus corona ini. Dampak kesehatan pun dirasakan.

Ada efek jangka panjang akibat covid-19. Selain menimbulkan bahaya besar pada sistem pernapasan, sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa covid-19 bisa menyebabkan risiko kerusakan otak. Demikian dilansir Times of India.

Baca juga: Peneliti Ungkap Obat Zolpidem Bantu Pasien dengan Gangguan Otak 

Dilaporkan, covid-19 dapat menyebabkan radang ringan hingga parah, stroke, dan kejang pada otak pasien yang terinfeksi. Orang yang sembuh dari infeksi juga mengeluh mengalami kebingungan mental, sakit kepala, pusing, dan penglihatan kabur selama setelah proses pemulihan.

Studi juga mengklaim bahwa prevalensi gejala neurologis seperti sakit kepala dan gangguan mental pada pasien covid-19 bisa menunjukkan hubungan antara SARS-COV-2 dan penyakit seperti alzheimer serta parkinson.

Menurut studi terbaru yang dilakukan oleh para peneliti dari Uppsala University di Swedia, SARS-CoV-2 dapat menginfeksi sistem saraf dan memicu berbagai gejala neurologis, termasuk pusing, kebingungan, stroke, serta koma.

Studi ini terus mengamati 19 orang yang terinfeksi covid-19 dan telah ditindaklanjuti dengan laporan kemajuan mereka. Para peserta telah tertular virus tahun lalu dan telah mengembangkan gejala neurologis, mulai dari mengigau hingga koma.

Baca juga: Bayi Dicekoki Miras oleh Pamannya, 4 Orang Ditetapkan Tersangka

Delapan orang yang secara sukarela dalam penelitian ini mengalami "perubahan status mental". Kemudian delapan orang lainnya juga mengalami sakit kepala akibat infeksi.

Para peneliti mengumpulkan sampel cairan serebrospinal mereka yang dikenal dapat melindungi otak dan tulang belakang. Kemudian ditemukan bahwa sampel tersebut mengandung protein dalam jumlah berlebihan yang terkait dengan gangguan fungsi otak.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement