Saat ini rapid antigen tengah jadi primadona di kalangan masyarakat Indonesia. Mengingat, saat ini rapid antigen menjadi syarat mutlak seseorang diperbolehkan melakukan perjalanan, berpindah dari suatu daerah menuju titik daerah lain.
Demi memastikan orang-orang yang melakukan perjalanan tersebut adalah orang-orang yang sehat. Sistem transportasi umum pun kini mewajibkan semua penumpangnya mempunyai surat rapid antigen dengan hasil negatif.

Lalu sebetulnya, seberapa efektif kah rapid tes antigen untuk mendeteksi virus SARS-CoV-2 pada seseorang?
dr Muhammad Irhamsyah, Sp.PK, Dokter Spesialis Patologi Klinik, Primaya Hospital mengatakan, nyatanya alat rapid antigen itu sensitivitasnya rendah (tingkat seberapa sensitif alat tersebut mampu mendeteksi suatu antigen dengan kadar terendahnya), jika di dalam tubuh orang yang diperiksa, jumlah virusnya sedikit.
“Nilai sensitivitas suatu alat rapid antigen itu rendah, jika dalam tubuh pasien jumlah virus SARS-CoV-2 yang menginfeksi itu sangat rendah atau sedikit (biasanya pada pasien terkonfirmasi positif PCR namun tanpa gejala). Sensitivitas alat berangsur meningkat sejalan dengan makin meningkatnya jumlah virus SARS-CoV-2 di tubuh pasien,” kata dr. Muhammad Irhamsyah, Sp.PK kala dihubungi Okezone, baru-baru ini.
Hal ini menandakan, orang dengan hasil rapid antigennya negatif, bukan berarti orang tersebut tidak terinfeksi Covid-19.