EKSOTISME Kalimantan Timur memang tidak terbantahkan lagi. Tak hanya menyuguhkan keindahan alam yang begitu memikat, Kaltim juga menjadi rumah bagi ratusan situs cagar budaya dengan keunikan dan karakteristik masing-masing.
Hal tersebut disampaikan secara gamblang oleh Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kalimantan Timur, Muslimin AR. Effendy.
"Karakteristik tinggalan cagar budaya di Kaltim secara garis besar terbagi menjadi 4 bagian yakni, peninggalan prasejarah, periode kerajaan, periode kolonial Belanda, dan periode Jepang," ujarnya saat ditemui Okezone, beberapa waktu lalu.
Untuk peninggalan 'periode pra sejarah' banyak tersebar di kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat. Sebut saja Goa Tewet.
Goa ini merupakan salah satu situs yang menyimpan gambar cadas berusia 40 ribu tahun, dan diklaim tertua di dunia. Hal tersebut secara tidak langsung membuktikan bahwa Indonesia memainkan peran penting dalam perkembangan sejarah peradaban manusia
"Dan menurut data yang telah kami kumpulkan, di Sangkulirang-Mangkalihat itu terdapat 58 goa bergambar cadas dengan total lukisannya mencapai 1.234. Akan bertambah terus, tapi kami terkendala karena medannya cukup sulit," kata Muslimin.
Baca juga: Promosikan Wisata Sangkulirang, Kaltim Bidik Turis Mancanegara
Selanjutnya tinggalan cagar budaya 'periode kerajaan' yang banyak tersebar di kawasan Kutai Kartanegara. Tempat ini menyimpan peninggalan bersejarah yang berasal dari jaman Kerajaan Kutai Kartanegara.
(Foto: Museum Nasional)
"Banyak peninggalan menarik di sini. Data base-nya juga cukup banyak. Contohnya di Muara Kaman itu ada 7 prasasti yang mengisyarakatkan betapa 'besarnya' Raja Mulawarman di masanya. Dan prasasti itu dianggap literasi tertua di Indonesia," jelas Muslimin.
Sementara untuk tinggalan cagar budaya periode Belanda dan Jepang, masing-masing tersebar di kawasan Sangasanga dan Balikpapan.
Di Sangasanga wisatawan dapat melihat secara langsung sumur Louise yang juga menjadi tonggak sejarah Kutai Kartanegara. Mengutip laman pertamina.com, diketahui keberadaan Sumur Louise 1 tidak dapat terlepas dari sejarah Kota Minyak Sangasanga.
Berawal dari penelitian insinyur pertambangan Belanda Jacobus Hubertus Menten yang melakukan penelitian di Sangasanga pada tahun 1888 dan menemukan sumber minyak di Sangasanga.
Pada Januari 1897, sumur minyak pertama Louise 1 mulai dibor. Kemudian pada Februari 1897, Sumur Louise 1 pertama kali memproduksi minyak dengan produksi awal 88 BOPD.
Sedangkan di Kota Balikpapan, banyak ditemukan bunker-bunker peninggalan Jepang. Berdasarkan data registrasi dan inventaris cagar budaya Kota Balikpapan tahun 2010, terdapat 19 bunker yang merupakan peninggalan Jepang.
Persebaran Bunker Jepang di Kota Balikpapan terletak di daerah Manggar, Manggar Baru, Lamaru, dan Klandasan Ilir dan berlokasi di daerah pesisir pantai. Hal ini dikondisikan sebagai antisipasi jika musuh datang menyerang dari arah laut.
"Bangunan-bangunan bergaya Indische juga ada, meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak. Lalu juga ada peninggalan cagar budaya dari Periode Islam seperti makam dan masjid yang tersebar di dekat Sungai Mahakam," tandasnya.
(Rizka Diputra)