Ayus, Songo, Setu, dan Sentang tidak tinggal diam. Mereka menghalangi jalan Silu dengan melemparkan batu dan pohon-pohon besar di salah satu tepian Sungai Sange yang kini menjadi riam Sange. Namun hasilnya nihil. Silu tetap berhasil menghilir.
Begitu pula saat mereka mencoba menghadangnya di Sungai Jele yang berada di kaki Gunung Gergaji. Lemparan batu Ayus dan adik-adiknya itu kemudian dikenal dengan nama Ilas Kedangau (Kedanum).
"Dalam bahasa Dayak, Ilas itu artinya tebing dan kedanum adalah sungai. Jadi tebing yang mengarah ke sungai," kata Rusdi.
Rusdi melanjutkan, Ayus dan adik-adiknya terus melempar batu hingga sampai di Sungai Bengalon, Gunung Batu Aji. Tempat itu kemudian dikenal dengan nama Ilas Batu Putih. Namun sayang, mereka lagi-lagi tidak berhasil menghalangi kepergian Silu.
Usut punya usut, itu semua berkat ayam jago yang dibawa Silu. "Ayam jago itu selalu berkokok saat Silu melewati bendungan yang berasal dari lemparan batu kakak-kakaknya. Dan entah bagaimana dia selalu lolos," ujar Rusdi.
Sampai pada akhirnya Silu tiba di laut Sangkulirang dan dikabarkan menikah dengan penguasa laut. Legenda Gunung Tondoyan ini pun sekarang menjadi salah satu daya tarik kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat. Wisatawan yang berkunjung ke Sangkulirang dapat melihat kemegahan tebing-tebing karst yang dipercaya berasal dari legenda tersebut.
(Rizka Diputra)