Kasus serupa pun dilakukan Rapid Deployment Vaccine Collaborative atau RaDVaC, yang salah satu kolaboratornya adalah ahli genetika Harvard George Church. Praktek mereka dianggap ilegal karena tidak disetujui otoritas pengawas obat dan makanan Amerika Serikat (FDA).
Baca Juga : Maria Vania Selfie di Kamar Mandi, Netizen Langsung Minta Diculik!
Apa yang dilakukan para ilmuwan itu sangat keliru. Vaksin yang mereka buat tanpa pengawasan studi terkontrol pasebo itu memiliki konsekuensi negatif yang tak terduga. Ini sangat berbahaya.
Jeffrey Kahn, direktur Institut Bioetika Johns Hopkins Berman mengatakan, mendorong orang lain untuk menggunakan vaksin buatan sendiri atau vaksin DIY seperti kembali ke zaman perdukunan. Vaksin yang disuntikkan hanya menjanjikan kepalsuan semata.
Sementara itu, Wali Kota Ghatan tidak menyesal sudah disuntikkan vaksin DIY ke tubuhnya. "Saya lebih suka memiliki kesempatan untuk mendapatkan perlindungan daripada tidak memiliki perlindungan sama sekali dan menunggu dan terus menunggu," tegasnya.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.