Ketika kegiatan belajar tatap muka ditiadakan pada 17 Maret lalu, pihak sekolah harus memutar otak. Sebab, di Dusun Punik, Desa Batu Dulang, tidak terjangkau sinyal internet.
Untuk menyiasati hal ini, guru melakukan kunjungan langsung ke rumah-rumah siswa. Setelah selesai, siswa mengumpulkan tugas ke rumah guru.
Untuk meringankan beban guru, Ibrahim pernah terpikir untuk menggunakan telepon biasa. Namun, dikhawatirkan tidak semua siswa bisa mendapatkan pelajaran lantaran sinyal telepon seluler juga tidak merata di lokasi tersebut. Apalagi kebanyakan orang tua siswa tidak mampu membeli pulsa untuk paket internet.
"Ada tempat yang memang dijangkau sinyal. Tapi kami hindari. Karena nanti anak-anak akan berkerumun. Sementara tidak diperbolehkan untuk berkumpul," imbuhnya.
Orangtua murid juga mengaku sangat terbantu dengan penggunaan handy talkie. Dengan cara ini mereka tidak perlu mengeluarkan uang tambahan untuk membeli pulsa ponsel.
Ibrahim pun punya ide untuk menggunakan radio komunikasi dua arah, atau handy talkie karena dia adalah anggota Organisasi Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI).
Mereka lantas memesan sejumlah unit handy talkie. Tahap awal, mereka memesan 40 unit. Dananya swadaya, kumpulan dari para orang tua murid.
Harganya lumayan terjangkau, hanya Rp 200 ribu perunit. Itu sudah dengan ongkos kirim sampai ke lokasi. Saat ini, sekolahnya sudah memiliki 69 unit handy talkie, belum termasuk handy talkie yang dipegang oleh guru.
Handy talkie yang digunakan untuk belajar-mengajar memiliki 16 saluran. Setiap saluran diperuntukkan setiap tingkat kelas.
(Dyah Ratna Meta Novia)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.