Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gara-Gara Pandemi Corona, Pilot Ini Banting Setir Jadi Pengemudi Ojek Online

Leonardus Selwyn Kangsaputra , Jurnalis-Rabu, 06 Mei 2020 |15:59 WIB
Gara-Gara Pandemi Corona, Pilot Ini Banting Setir Jadi Pengemudi Ojek Online
Kritee saat jadi pilot (Foto: arab News)
A
A
A

PANDEMI virus corona (COVID-19) yang menyerang dunia membuat banyak orang kehilangan pekerjaannya. Salah satunya adalah Kritee Youngfuengmont yang bertugas menerbangkan pesawat terbang komersial.

Pembatasan perjalanan udara akibat pandemi corona, yang diberlakukan bagi maskapai penerbangan di Thailand berdampak besar dalam kehidupan awak penerbangan dan kru dalam kabin. Hal ini juga menimpa Kritee.

Banyak awak kabin yang dicutikan dan menghadapi pengurangan pendapatan dari pemotongan gaji secara besar-besaran.

Menghadapi dampak ekonomi yang disebabkan pandemi virus corona, membuat Kritee berjuang mencari uang tambahan untuk menutup keperluan sehari-harinya. Akhirnya si pilot banting setir sebagai ojek online (ojol) di bidang jasa pengiriman.

ojek online

Dilansir dari Arab News, Rabu (6/5/2020), bulan lalu Kritee masih menerbangkan pesawat komersial, kini ia hanya menaiki skuter untuk berkeliling ke sekitar kota untuk mengantarkan makanan, dokumen atau bahkan secangkir kopi panas.

Penampilan Kritee saat ini jauh dari kata glamor. Tetapi bagi pilot berusia 36 tahun itu pekerjaan sebagai ojek online sangat efektif untuk membantu dalam menyelesaikan hutangnya.

Kritee mendapatkan sekira 1.500 Baht atau setara Rp 697 ribu per harinya. Uang tersebut harus digunakan untuk membuatnya tetap bertahan sampai pandemi virus corona berlalu.

“Hidup ini tidak bisa diprediksi. Yang tak terduga bisa terjadi kapan saja. Anda bisa menikmati saat-saat yang menyenangkan dan tiba-tiba, hidup Anda berantakan. Ketika itu terjadi, apakah Anda akan menyerah, atau bertarung dan menemukan sesuatu untuk dijadikan pegangan saat mencari jalan keluar,” ujar Kritee penuh semangat.

Maskapai penerbangan Thailand mulai mengurangi layanan dan gaji karyawan pada akhir Maret 2020. Tindakan ini diambil dalam upaya memperlambat penyebaran virus corona. Larangan terbang membuat sebagian besar penerbangan kehilangan pemasukannya.

Setidaknya beberapa maskapai penerbangan di Thailand lainnya berencana untuk melanjutkan penerbangan domestik secara terbatas pada pekan ini.

Sejak banyak crew yang dicutikan oleh pihak maskapai, Kritee dan teman-teman sesama staf penerbangan menukar seragam pilot mereka dengan seragam staf pengantar untuk mengangkut makanan dan barang di sekitar Bangkok.

Sebagaimana diketahui, layanan pengiriman, terutama makanan, adalah industri penting di Thailand. Grab yang berkantor pusat terbesar di Singapura, memimpin dalam hal pengiriman makanan. Bahkan disebutkan terdapat 150.000 pengemudi ojek online di seluruh negeri Thailand.

"Saya lihat orang-orang berpikir, bahwa pilot mempunyai citra dengan karier yang tinggi dan glamor. Tapi semua orang lupa bahwa kita hanyalah manusia biasa dengan tanggung jawab dan biaya hidup, sama seperti orang lainnya." kata Thanun Khantatatbumroong, salah satu administrator grup di mana Kritee berada.

Beberapa karyawan dari industri penerbangan lainnya juga berjuang untuk mendapatkan sedikit penghasilan dengan berjualan online. Saat ini mereka membuat 'Pasar Kru Online', yang memiliki lebih dari 16.000 anggota. Produk yang ditawarkan berkisar dari donat, udang bakar hingga komputer dan peralatan dapur.

Sebuah tim beranggotakan tiga orang membersihkan AC di salah satu rumah di pinggiran kota Bangkok sejak minggu lalu. Mereka adalah para awak darat yang bertugas menjaga mesin pesawat Boeing 737.

Setelah pekerjaan mereka bermasalah dan tidak mendapatkan cukup penghasilan, mereka memutuskan untuk menyesuaikan kemampuan mereka. Mereka menghabiskan 10.000 baht atau setara Rp4,6 juta untuk membeli alat-alat seperti selang tekanan tinggi, blower udara, tangga dan produk pembersih.

Untuk menarik pelanggan, mereka mengenakan tarif di bawah tarif standar. Chutiphong Sodvilai, 32 tahun, ayah dua anak, yang dibayar hanya 10 persen dari upahnya mengatakan, ia mendapat kepuasan karena sadar bahwa krisis tak mengalahkannya.

“Semua orang harus menyesuaikan diri. Kami tidak dapat mengubah apa pun selain diri kami sendiri. Saya harus menemukan sesuatu untuk dilakukan, untuk mengurus diri sendiri dan keluarga saya sehingga kami dapat selamat dari krisis ini,” pungkasnya.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement