Para ilmuwan saling berlomba menemukan cara untuk menyembuhkan para pasien yang terinfeksi virus corona COVID-19. Salah satunya adalah dengan melakukan tes serologis untuk mencari antibodi spesifik dalam darah seseorang.
Dalam waktu beberapa jam setelah seseorang terinfeksi virus SARS-CoV-2, ke dalam tubuh, maka sistem kekebalan tubuh akan melakukan serangan. Akhirnya tubuh mulai mengirimkan molekul besar berbentuk Y yang disebut antibodi untuk melawan virus dengan tepat.
Asisten Profesor Departemen Ilmu Komputer dan Institut BioFrontiers di University of Colorado Boulder, Daniel Larremore mengatakan antibodi ini mengikat seperti kunci-kunci pada bagian tertentu dari virus. Oleh sebab itu tes antibodi dirancang untuk mendeteksi molekul-molekul ini.
"Tujuan dari tes antibodi adalah, memastikan seseorang merasa sakit dengan COVID-19. Kami bahkan bisa bertanya pada sistem kekebalan tubuh Anda jika telah terinfeksi virus corona," ujar Larremore, merangkum dari Fox News, Senin (4/5/2020).

Tes antibodi biasanya dirancang untuk mendeteksi satu dari dua jenis molekul, imunoglobulin M dan imunoglobulin G. Dalam beberapa hari hingga satu minggu setelah patogen menginfeksi tubuh, sistem kekebalan menghasilkan sejumlah kecil imunoglobulin M.
(Baca Juga : Stigma Berkontribusi Terhadap Tingginya Angka Kematian Covid-19)
Beberapa hari hingga dua minggu kemudian, tubuh akan mengirimkan sejumlah besar imunoglobulin G. Karena respon imun ini membutuhkan waktu untuk muncul, tes antibodi akan negatif untuk mereka yang baru terinfeksi COVID-19. Itulah sebabnya cara ini tidak digunakan untuk diagnosis.
"Jika ini adalah awal dari infeksi, Anda tidak bisa mengambilnya. Karena ini adalah sesuatu yang baru berkembang kemudian," ujar dr. Melanie Ott, seorang ahli virologi dan imunologi di Gladstone Institutes dari University of California, San Francisco.
Bagaimana cara kerja tes antibodi?
Ada dua jenis tes antibodi yang umumnya digunakan untuk menguji SARS-CoV-2 yakni lateral immuno-assay dan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).
Keduanya menggunakan prinsip dasar yang sama. Sampel darah atau serum seseorang (bagian cairan darah) dicuci di atas permukaan yang memegang molekul-molekul yang diikat oleh antibodi. Ketika antibodi berikatan dengan molekul target, tes mendeteksi dengan reaksi kimia, seperti perubahan warna.
Ahli Virus di Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson, Jesse Bloom mengatakan tes lateral immuno sangat mudah dan cepat serta bisa dilakukan oleh siapa saja.
“Mereka pada dasarnya mirip dengan tes kehamilan yang menggunakan stick pada urin. Hanya saja ini tidak menggunakan urin tetapi menggunakan darah atau serum dalam arti mereka memberikan Anda pembacaan visual sangat cepat,” terang Bloom.
Serologi Diagnosis Virus dan Mikrobiologi di Statens Serum Institute di Copenhagen, Charlotte Sværke menyebut tes ELISA sedikit lebih rumit dan harus dijalankan di laboratorium. Tes ini menggunakan pemipaan dan wajib dilakukan oleh staff khusus. Hasilnya pun membutuhkan waktu lebih lama, biasanya sekira dua hingga tiga jam.
Dalam kasus SARS-CoV-2, sebagian besar tes berfokus pada peningkatan protein virus yang digunakannya untuk menyerang sel. Beberapa tes mampu mengikat wilayah S1 dari protein virus corona.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.