Seorang ibu bernama Ardiati Bima, warga Rajek Lor, Tirtoadi, Mlati Sleman, Yogyakarta menyediakan berbagai bahan makanan gratis yang diletakan di bambu yang melintang di jalan kampung.
Berbagai bahan makanan gratis itu diletakkan di jalan agar mudah diambil warga yang membutuhkan, terutama yang terdampak pandemi virus corona. Apalagi di tengah pandemi banyak orang yang terkena PHK sehingga sulit untuk membiayai kebutuhan hidup seperti makanan.
Ardiati menyediakan berbagai macam sayuran, telur, minyak, mie instan, tomat, cabe, bawang, semua tergantung di bambu yang melintang di jalan kampung. Di situ tertulis, “Sumonggo bagi yang membutuhkan,” artinya, silakan diambil bagi yang membutuhkan.

Di tempat yang sama juga ada tulisan yang berisi ajakan, “Dengan senang hati dipersilahkan juga yang mau ikut menambah atau memberi di sini.”
Di sana juga terletak sebuah gunting kecil yang diikat tali. Bisa digunakan bagi siapa saja yang mau mengambil bahan makanan yang terdapat di situ.
“Saya memberikan bahan makanan ini karena terinsipirasi oleh foto warga Surabaya yang mencantelkan mie instan, kok jadi ingin ikut-ikutan. Apalagi pagi itu saya dengar sudah ada tetangga yang dirumahkan dari tempat kerja,” kata Ardiati belum lama ini.
Ardiati yang mengaku hanya warga biasa ini mengatakan, dalam kondisi seperti ini menurutnya semua terdampak. Orang-orang, yang tergolong tidak mampu di masyarakat biasanya sudah disantuni oleh tetangga yang lain.
Selain itu biasanya sudah mendapatkan program pemerintah seperti Program Keluarga Harapan, kartu sehat, bahkan listrik gratis.
“Saya kepikiran justru golongan menengah bawah yang punya kewajiban BPJS mandiri yang harus tetep bayar penuh, listrik bayar penuh dan lain-lain. Karena dia tak kerja, otomatis kewajiban tetap ada, tapi penghasilan gak ada,” katanya.
Awalnya maksud dari Ardiati menyediakan bahan makanan ditujukan untuk orang-orang seperti itu. Ia berpikir, selain mie instan apa yang bisa ia bagi.
Hari pertama ia menaruh telur, mie instan, gula jawa. Hanya 4 kresek atau tas plastik. Ia berpikir yang penting mulai dulu saja.
Ardiati juga sempat gamang, jangan-jangan yang mengambil bukan orang yang butuh. Namun, pikiran itu kemudian ia kesampingkan. Ia percaya orang-orang yang mengambil adalah orang yang memang butuh atau merasa butuh. Ia berpikir kalau ragu-ragu malah tidak akan melakukan sesuatu.
Banyak orang yang tertarik ikut berbagi
Apa yang dilakukan oleh Ardiati ternyata diketahui oleh tetangganya. Hari kedua, tetangganya datang ke rumahnya dengan membawa seikat besar kangkung dan selada. “Titip buat dicantelin,” kata tetangganya.
Menurut Ardiati, apa yang dilakukan olehnya sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh orang lain, seperti bagi-bagi di hari Jumat. Ajang berbagi juga bukan hal baru, hanya variasi yang dibagikannya mungkin kali ini berbeda.
Ardiati menjelaskan, apa yang ia lakukan adalah yang ia mampu. Sebagian besar bahan makanan, terutama sayur-sayuran adalah hasil panenan kebunnya.
Bahan makanan yang disediakan itu juga tidak banyak, sekitar 4 paket setiap harinya. “Yang bikin haru sebenarnya karena terus ada orang-orang yang nitip, ada yang nitip telur 1,2 kilogram dan lainnya,” kata Ardiati.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban dari amanah tetangganya, Ardiati mengambil foto dan menjadikannya status WhatsApp. Efeknya kemudian banyak yang menitipkan bahan makanan seperti beras, telur, minyak, sayuran, bumbu, kelapa, mie, pepaya dan lain-lain. Bahkan ada yang menitip uang untuk dibelanjakan bahan makanan yang akan disediakan secara gratis.
Ardiati mencatat, selama 15 hari melakukan apa yang ia sebut ‘cantelan’ ada sekitar 7 orang yang menitipkan bahan makanan. Terdiri tetangga, teman kuliah, maupun kenalannya.
“Semoga banyak yang melakukan, tentu dengan sumberdaya dan dana yang tersedia,” ujar Ardiati.
(Dyah Ratna Meta Novia)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.