LAPORAN “Situasi Glaukoma di Indonesia 2019” yang dirilis oleh Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan secara global jumlah penderita glaukoma di dunia pada 2020 mencapai angka 76 juta. Dengan kata lain, meningkat sekitar 25,6 persen dari angka satu dekade silam.
Sementara temuan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) online dari pasien rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit Indonesia sepanjang 2017, penderita glaukoma dengan kelompok umur 44 tahun ke atas menjadi yang terbanyak, tercatat sebanyak 61.882 penderita, atau sekitar 71,4 persen dari total pasien saat itu.
Orang-orang yang sudah memasuki usia kepala empat, seperti disebutkan Prof. DR. dr. Widya Artini Wiyogo, Sp. M (K), dokter Subspesialis Glaukoma, memang masuk ke dalam kelompok risiko tinggi mengalami glaukoma. Alasannya karena di titik usia ini lah gen mulai menunjukkan reaksi.
“Dengan usia di atas 40 tahun, dari perkembangan glaukomanya sendiri di mana gennya itu sudah mulai bereaksi untuk terjadinya penyakit ini sendiri. Ini kan degeneratif, proses umumnya dimulai di usia 40 tahun,” tutur Profesor Widya, saat dijumpai Okezone, Sabtu (14/3/2020) di Menteng, Jakarta Pusat.

Menurutnya, jika seseorang sudah memasuki usia kepala empat, terlebih yang memiliki riwayat keluarga penderita glaukoma, sudah harus sangat waspada dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh dengan medical check-up.
Tidak hanya itu, Profesor Widya mengimbau untuk juga secara rutin melakukan pemeriksaan mata secara rutin berkala setiap dua tahun sekali.
“Usia 40 tahun itu harus rutin medical check-up seluruh tubuh kita itu sudah keharusan. Dua tahun sekali periksa diri secara general, termasuk mata. Proses degeneratif dimulai terjadi di usia itu,” pungkasnya.
Sekadar informasi, di Indonesia jumlah kasus baru glaukoma pada pasien rawat jalan pada 2017 lalu tercatat sudah di angka 80.548. Data Jakarta Eyes Center pada 2019 menyebutkan ada sekitar 42.662 pasien yang terkena penyakit ini.
Penderita glaukoma umumnya mengalami ketidakseimbangan daur cairan, yakni terjadi masalah di saluran pengeluaran yang mengakibatkan naiknya tekanan pada bola mata di atas 21 mmHg.
Apabila situasi ini terus-menerus terjadi, maka kerusakan saraf mata tidak dapat terhindarkan. Secara perlahan menyebabkan penyempitan lapang pandang hingga penderita hanya bisa melihat seolah dari lubang kunci, dan akhirnya buta total tanpa bisa disembuhkan.
Pendeteksian awal mungkin menjadi langkah antisipasi untuk terhindar dari penyakit yang memiliki julukan “pencuri penglihatan” ini.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.