UPAYA pemerintah dalam menurunkan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah dilakukan. Masyarakat diimbau untuk membersihkan lingkungan, juga pengasapan.
Sebanyak 6.639 kasus demam berdarah dengue (DBD) muncul di berbagai wilayah Indonesia sepanjang Februari hingga Maret ini, dengan mayoritas penderita berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di NTT, 32 penderita DBD meninggal dunia, 13 di antaranya berada di Kabupaten Sikka.

Wabah ini terjadi, meski pemerintah setempat mengklaim sudah memulai program kewaspadaan demam berdarah (DBD) sejak September 2019. Pemerintah setempat bersiasat, dengan semakin giat menggelar pengasapan untuk membasmi sarang nyamuk.
Untuk memutus rantai penyebaran DBD, Kepala Dinas Kesehatan NTT, Dominikus Minggu Mere, menyebut pemerintah akan memperbanyak program pengasapan dan pembersihan lingkungan. Tujuannya utamanya untuk pemberantasan sarang nyamuk.
"DBD penyakit berbasis lingkungan jadi di lapangan sudah ada kerja bakti dan sosialisasi melalui gereja," ujarnya di Maumere, dilansir Okezone dari BBC News Indonesia.

Di Sikka, sebut Dominikus, bupati sudah menginstruksikan pemberantasan sarang nyamuk. Tapi itu perlu dioptimalkan lagi.
"Perlu ada kesinambungan, dilakukan setiap hari," kata Dominikus.
Selain pengasapan dan pembersihan lingkungan, upaya lain yang dijalani adalah menggerakkan satu rumah satu juru pemantau jentik nyamuk.
Laporan per Senin 9 Maret 2020, terdapat 2.697 warga NTT yang terinfeksi virus demam berdarah. Sehingga pemerintah menyatakan peristiwa ini sebagai kejadian luar biasa.
(Dewi Kurniasari)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.