SEJAK adanya kasus virus korona/Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) pertama di Indonesia, kewaspadaan masyarakat pun menjadi semakin meningkat. Anda harus mengantisipasi penularan COVID-19, dengan mengetahui cara penyebaran virus korona ini.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang bingung mengenai cara penyebaran virus korona COVID-19. Menurut Konsultan Penyakit Tropik Infeksi RSCM, dr Adityo Susilo, SpPD, K-PTI, FINASIM, virus korona COVID-19 ditularkan dengan cara droplet.
“Virus korona COVID-19 ini penularannya secara droplet (partikel kecil air) dari bersin, batuk atau percikan dahak. Virus korona kan menyerang saluran pernapasan, jadi penularan seperti ini bisa diatasi dengan menggunakan masker,” terang Dokter Adityo kepada Okezone, beberapa waktu lalu.

Selain droplet, Dokter Adityo mengatakan, metode penularan kuman dan penyakit bisa dilakukan secara airbone. Penyebaran secara airbone, sedikit berbeda dengan droplet. Sebab melibatkan partikel yang sangat kecil (aerosol) dan bisa menyebar lewat udara.
Penyebaran virus ada dua macam, droplet dan airbone. Kalau droplet, masker biasa saja sudah cukup untuk menahan virus tersebut. Tapi kalau penyebarannya airbone seperti virus TB maka diperlukan masker N95,” lanjutnya.
Merangkum dari CDC, penyebaran virus korona COVID-19 juga bisa dilakukan dengan cara close contact (jarak dekat). Seseorang bisa dengan mudah tertular apabila melakukan aktivitas bersentuhan satu sama lain.
Beberapa sentuhan seperti ciuman, berpelukan, berjabat tangan, maupun saling berhadapan dengan jarak enam kaki atau sekira 1,8 meter juga berpotensi menimbulkan infeksi.
Ketika harus terpaksa bersentuhan, usahakan cuci tangan dengan sabun. Banyak ahli mengungkap cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir dapat mematikan virus.
Orang yang terinfeksi virus korona COVID-19 akan mengalami masa inkubasi hingga muncul gejala. Gejala seperti batuk, pilek, demam dan sakit tenggorokan. Pasien dengan infeksi akut atau berat akan timbul keluhan seperti sesak, batuk, demam dan ngos-ngosan.
Umumnya, gejala tersebut akan muncul dua hingga 14 hari. Namun World Health Organization (WHO) mengatakan gejala yang paling umum akan muncul pada hari kelima setelah terinfeksi.
(Dewi Kurniasari)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.