Tri Yunis Miko Wahyono, pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) mengatakan, seseorang bisa saja terinfeksi SARS-CoV 2 tapi tidak menderita sakit Covid-19. Hal itu tergantung dari jumlah virus yang masuk ke dalam tubuh dan ketahanan tubuh orang tersebut.
"Semakin banyak virus yang masuk, semakin berat melawannya. ... Yang pertahanan tubuhnya menang, bisa asimptomatik atau [gejala] ringan," ujarnya.
Namun orang yang asimptomatis tetap bisa menyebarkan virus karena itu otoritas kesehatan perlu memperketat pengawasan dan pemantauan pada mereka yang menjalani karantina rumah karena ada kemungkinan terdapat kasus yang tidak terdeteksi oleh skrining di bandara.
Ia memperingatkan bahwa dinas kesehatan dan Puskesmas di sejumlah daerah wisata seperti Bali bisa kesulitan dalam melakukan pengawasan karena jumlah wisatawan yang begitu banyak.
"Jumlah dinas kabupaten dan Puskesmasnya kan terbatas, stafnya juga terbatas untuk mengawasi begitu banyak, ya agak sulit," ujarnya.
Sekretaris Ditjen Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto mengatakan pihaknya telah memeriksa orang-orang yang diduga kontak dengan turis Jepang yang positif SARS CoV-2 sekaligus memantau kasus pneumonia di daerah itu. namun sejauh ini belum menemukan apa-apa.
(Dyah Ratna Meta Novia)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.