Pola diet dengan menjalani puasa intermiten atau waktu berselang jadi salah satu tren di dunia kesehatan tahun 2019 ini. Seiring dengan metode puasa yang semakin populer, maka semakin banyak penelitian yang muncul.
Namun apa saja sih sebetulnya diet puasa intermiten yang lagi tren ini? Melansir Womenshealthmag, Senin (23/12/2019) berikut enam potensial manfaat dari diet puasa intermiten.

1. Turun berat badan
Manfaat pertama ini tergantung dari tipe metode puasa yang dilakoni. Beberapa hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan penurunan berat badan antara puasa intermiten dengan metode diet membatasi kalori. Namun, penelitian terbaru menyebutkan bahwa metode puasa intermiten dengan sistem dari pukul 7 pagi hingga 3 sore dapat membantu menurunkan berat badan.
Penelitian tahun 2013 ‘Obesity’ menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi sejumlah kalori yang lebih besar saat sarapan dan makan malam yang lebih kecil dapat menurunkan berat badan dua setengah kali lipat dalam 12 minggu daripada orang yang makan kalori yang persis sama tetapi secara terbalik, dengan sarapan lebih kecil dan makan malam lebih besar.
2. Meningkatkan sensitivitas insulin
Ahli diet di New Jersey, Erin Palinski-Wade, RD, mengungkapkan bahwa dalam beberapa penelitian puasa intermiten, ditemukan bisa mengurangi kadar gula darah dan mengurangi resistensi insulin yang sangat bermanfaat bagi orang yang berisiko terkena diabetes tipe 2. Ditambah lagi dengan hasil studi tahun 2018 yang dipublikasikan dalam ‘Cell Metabolism’, menyebutkan, pria pre-diabetes puasa yang dibatasi waktu lebih dini meningkatkan sensitivitas insulin.

3. Lebih fokus
Di studi yang diterbitkan 2018 silam, ‘Experimental Biology and Medicine,’ menunjukkan puasa dapat melindungi diri terhadap penyakit Alzheimer dengan mengurangi resiko terkena memory loss atau kehilangan memori.
4. Menurunkan kolesterol
Salah satu mengapa puasa dapat membantu untuk menurunkan berat badan adalah karena kita makan di siang hari, yang mana waktu tubuh secara alami ingin mengonsumsi kalori. Ketika kita makan sesuai dengan ritme sirkadian tubuh, aktif di siang hari dan makan lebih sedikit di malam hari. Maka kita memetabolisme makanan dengan lebih baik dan ada perbaikan gula darah dan lipid termasuk kolesterol dan trigliserida.
5. Tidur yang lebih baik
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa makan larut malam dapat mengganggu tidur atau menyebabkan gangguan tidur, meskipun porsinya kecil.
6. Mengurangi inflamasi
Para peneliti Mount Sinai diketahui menemukan bahwa siklus puasa intermiten yang berlangsung kurang dari 24 jam ternyata mengurangi jumlah monosit pro-inflamasi dalam darah. Kadar monosit yang tinggi telah dikaitkan dengan beberapa penyakit inflamasi dan autoimun kronis.
Serupa dengan studi dari Yale School of Medicine yang mempelajari efek puasa dan diet pada makrofag tubuh, atau sel-sel imun inflamasi. Menemukan bahwa diet rendah karbohidrat, puasa, atau olahraga intensitas tinggi dapat membantu mengurangi respon inflamasi sejenis.
(Utami Evi Riyani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.