Tidak saat itu juga dia memberitahu saya kalau dia berhasil dapat nomor saya. Butuh waktu sekira seminggu sampai akhirnya guru itu memberi pesan ke dalam kolom SMS di ponsel saya. Saya masih ingat betul, dia pertama kali 'chat' basa-basi.
Dia minta ke saya buat dicarikan jodoh. Saya yang tak begitu tahu maksudnya apa, hanya dibuatnya bingung. Tapi, lama-kelamaan, saya paham jalan 'chat' yang dia berikan. Dia ingin mendapat perhatian dari saya.

(Foto : Ilustrasi)
Sejak saat itu, hubungan kita semakin dekat, ya, sebatas dua insan manusia mencoba saling tahu. Hanya itu. Lagipula, hubungan ini berlangsung hanya lewat ponsel. Teman ngobrol virtual kalau kata anak zaman sekarang.
Sudah lumayan kenal lama, pak guru itu meminta kita bertemu. Tapi, saya tidak izinkan dia 'bawa' saya keluar hanya berdua. Saya minta dia main ke rumah saja, sekalian kenal dengan orangtua niatnya. Benar saja, dia datang ke rumah.
Singkat cerita, pak guru ini baru pulang dari Yogyakarta. Lagi, dia mau ketemu, mengajak saya makan siang sekalian kasih oleh-oleh. Tapi, saya tetap pada pendirian, tidak boleh keluar berdua dengan orang yang bukan muhrimnya. Akhirnya, saya minta dia ke rumah saja. Sekali lagi, dia datang ke rumah.
Tiga bulan berlalu, kemudian dia datang dengan keluarganya yang setahu saya niatnya hanya silaturahmi. Tidak ada pikiran apa-apa selain silaturahmi. Tapi, yang terjadi kemudian ialah saya 'dikhitbah', saya diikat. Setelah itu, kedua keluarga menentukan tanggal nikah.
Perasaan saya campur aduk. Namun saya pasrahkan semua pada Allah SWT. Saya lakukan salat malam, mungkin tiap malam. Saya coba meminta petunjuk pada Allah atas pilihan ini. Saya minta ke Allah SWT untuk diberi petunjuk, apakah pria ini memang jodoh saya atau bukan.